Liburan Di ‘Groote Post Weg’

Dikirim Goresan Berita pada Juli 21, 2008 oleh anggitmime

Tak terbantahkan keceriaan anak-anak senin pagi itu. Mereka dengan antusias dan semangat mendengarkan penjelasan dari pemandu tentang lokasi yang mereka kunjungi. Serombongan anak-anak kelas satu hingga kelas enam SD dari sebuah sanggar di Desa Sukaresmi  itu tengah mengikuti  kegiatan jalan-jalan yang bernuansa sejarah. Disaat teman-temannya yang lain mengisi liburan dengan berkunjung ke tempat wisata yang padat, anak-anak asuhan sanggar KASO (Kelompok Anak Sukaresmi Ok) ini memilih alternatif liburan yang lain. Liburan di jalan bersejarah, Jalan Raya Pos

            Adalah komunitas Kampoeng Bogor yang konsen dengan kegiatan sejarah dan perkembangan wilayah Bogor dari masa ke masa  yang menggagas kegiatan ini. Kegiatan bernuansa Heritage  Tour ini dinamakan Liburan Di Jalan Raya Pos (Groote Post Weg). Mereka kemudian bekerjasama dengan KASO untuk melaksanakan kegiatan liburan tersebut. Dalam Liburan Di Jalan Raya Pos ini anak-anak itu diajak menyusuri dan mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang tersebar di sepanjang jalan yang di bangun abad 18 ini. Tahun 1808 Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman Willem Daendels membangun jalan yang membentang dari Anyer hingga Panarukan sejauh 1.000 km. Jalan yang pada masa pembangunannya menimbulkan korban ribuan nyawa ini melintasi Bogor yang saat itu terdapat rumah peristirahatan Gubernur Jenderal (Istana Bogor). Jalan ini melintasi jalur Jakarta-Bogor / Jl Cibinong-Bogor, Warung Jambu ke Jl A Yani, Jl Jendral Sudirman, Jl Ir H Juanda, Jl Surya Kencana terus ke Sukasari, Tajur hingga Gadog.

 

“Kegiatan Heritage Tour ini kami selenggarakan dalam rangka mengenalkan sejarah kota kepada anak-anak”. Ungkap  Uthie ‘Kampoeng Bogor’  yang diiyakan  Indra koordinator KASO

 

            Untuk kegiatan Liburan Di Jalan Raya Pos kali ini anak-anak diajak menyusuri sejarah dari Jl A Yani hingga perbatasan Jl Ir H Juanda dan Surya Kencana. Disepanjang perjalanan anak-anak tampak asyik menyimak cerita sejarah dari pendamping/pemandu. Kemudian mereka mampir dan mengunjungi bangunan tua yang ada di sepanjang jalan ini. Kunjungan pertama adalah Museum PETA yang bangunannya sekarang satu kompleks dengan PUSDIKZI di Jl Sudirman. Bangunan yang masa awalnya menjadi barak pasukan pengawal Istana dan pusat pendidikan Perwira PETA pada masa pendudukan Jepang ini menjadi perhatian anak-anak. Di tempat itu mereka mendapat cerita dan wawasan dari pengelola museum.

Kunjungan berikutnya adalah ke gedung BAKORWIL yang dulunya merupakan gedung  Asisten Residen. Di gedung peninggalan Belanda ini anak-anak selain mendapatkan tutur sejarah dari pengelola gedung juga diajak berkeliling melihat lihat ruangan yang masih kental ciri kolonialnya. Pada salah satu ruangan terdapat sebuah kaca jendela bertuliskan nama dan tahun penghuni yang bisa dilihat dengan menempelkan kertas di belakangnya. Usai berkeliling di gedung Bakorwil anak-anak melanjutkan perjalanan menuju Museum Tanah yang gedungnya merupakan gedung laboratorium penelitian pertanian era Belanda. Terlihat arsitektur gedung yang corak dan cirinya masih tersisa. Selain berkunjung ditempat yang disinggahi, sepajang perjalanan dari satu lokasi ke lokasi kunjungan lainnya, anak-anak juga dituturkan cerita dan sejarah tempat-tempat yang dilewati seperti Air Mancur, Rs Salak, Istana Bogor, Regina Pacis, Hotel Salak, Balaikota, Gereja Katedral dan Zebaoth, SMP/SMA 1 Bogor, LIPI, Kantor Pos, BTM, Museum Zoologi dan lainnya. Di akhir kegiatan anak-anak yang masih bersemangat itu melakukan Heritage Game berupa mencocokan gambar (Foto tempo dulu) dengan nama tempat  yang dikunjungi. Sebelumnya mereka sudah di edukasi oleh para pemandu dari Kampoeng Bogor

            Kegiatan ini kiranya akan sangat bermanfaat sebagai sarana belajar mengenali sejarah sekaligus wisata. Khususnya bagi institusi pendidikan, komunitas maupun pihak lain yang tertarik dengan wisata sejarah.  Untuk itu Kampoeng Bogor  mengaku siap memfasilitasi rangkaian perjalanan dan kegiatan Heritage Tour ini. Bagi yang berminat dapat menghubungi sekretariat ‘Rumah Kampoeng Bogor’ Jl Pangeret Ujung No 12 RT 01/12 Tegal Gundil Bogor 16152, kontaknya atas nama Uthie 08567174888. (Ank_z)

‘Save Our Heritage’…Pameran Lukisan Yang menggugah

Dikirim Goresan Berita pada Juni 19, 2008 oleh anggitmime

Hamparan kanvas bergambar yang terpajang dalam panel-panel itu menggambarkan nuansa kota Bogor. Baik itu potret masa lalu maupun masa kini. Suasana pasar Bogor dan Jembatan Merah, Istana Bogor maupunGedung Blenong tempo dulu nampak bersanding dengan lukisan tukang sol, tukang pisang hingga sudut perkampungan pinggiran sungai Ciliwung masa kini. Kanvas bergambar itu seperti memetakan nuansa Bogor dalam ketenangan dengan Bogor dalam kepadatan.

Hamparan kanvas itu terpajang di sepanjang koridor Rafflesia Hotel Salak The Heritage. Ya…hari itu 8 Juni 2008 digelar pameran lukisan bertajuk Save Our Heritage karya Hanny Widjaja. Pameran lukisan yang didedikasikan sebagai rasa cinta-nya sang pelukis akan kota Bogor yang saat ini telah berusia 526. Kecerdasan memotret kota Bogor menjadi sebuah karya seni yang indah dimana perpaduan unsur kolonial dan tradisional yang memberikan keunikan tersendiri menjadi kelebihan dalam pameran ini. Tidak dapat dipungkiri kalau Hanny Widjaja memang memiliki ikatan jiwa dengan kota Bogor. Pelukis yang tahun 2005 berpartisipasi dalam pameran Artzone Workshop & Exihibition Edmonton Canada ini menjalani masa kanak-kanak dan remaja di Bogor.

Potret lukisan kota ini mengingatkan kita akan kesadaran demografis yang umum berlaku di dunia seni lukis.Menurut catatan Agus Dermawan T dalam katalog pameran, disebutkan Jan Vermeer banyak melukis sudut kotanya, Delft. Sementara Van Gogh sering melukis kapel dan sawah dekat rumahnya di kawasan Nuenen. Sebuah desa tempat masa kecilnya. Untuk lokalnya sebelumnya ada Rustamadji yang selalu mengingatkan sudut-sudut kota Klaten tempat ia hidup. Atau Wu Guangzhong yang acap melukis kota air Zhouzhuang tempat yang menginspirasinya. Kecenderungan ini bukan semata sebagai sarana mengagungkan daerahnya di hadapan orang lain, tapi lebih kepada dorongan untuk mengabadikan apa yang dilihat dan menjadi inspirasi maupun kenangan. Hanny Widjaja adalah pelukis yang menjadikan seluk beluk Bogor sebagai inspirasi. Sama halnya dengan yang dilakukan Abrahan Salm, T Reygers dan W.J Gorgon dengan ‘vue du palais de Buitenzorg’. Lalu ada A.A.J Payen, W.Troost dan Johan Daniel Beynon dengan Hotel Bellevue-nya. Sementara itu pelukis Indonesia yang pertama kali melukis pemandangan Bogor adalah Raden Saleh Pameran yang dibuka langsung oleh Walikota Bogor, Diani Budiarto ini dihadiri berberapa tokoh . Tampak Hasan Hambali dari Hotel Salak, James de Rave dari Kedaung group, Agus Dermawan seorang kritikus seni rupa, Kampoeng Bogor, Bogor Heritage dan tamu undangan lainnya. “Karya lukis bisa bicara banyak..untuk itu saya mengapresiasi dengan baik apa yang dilakukan Pameran Lukisan Save Our Heritage. Dengan pameran ini diharapkan dapat menggugah kesadaran masyarakat Bogor akan khasanah kekayaan budaya lokal yang patut dibanggakan”. Tutur Diani disela-sela sambutannya.

Harapannya pameran ini tidak semata memberikan wacana apresiasi seni lukis semata tapi juga sarana informasi dan kepedulian pelestarian. Pembukaan pameran ditandai dengan pembubuhan tanda tangan dan penyerahan cindera mata berupa lukisan balaikota Bogor kepada Walikota. (Ank_z)

Harap Maklum…

Dikirim Goresan Cerita pada Mei 28, 2008 oleh anggitmime

Sungguh luar biasa beban yang dirasakan rakyat yang menghuni bangsa ini. Sepertinya tekanan demi tekanan tak henti-hentinya menerpa negeri yang katanya ‘gemah ripah loh jinawi’ . Kita menjadi miskin dinegeri yang kaya ini. Tekanan politik, tekanan ekonomi hingga tekanan moral tampak akrab menjerat kita.Tanpa bermaksud bicara sok aksi tentang politik, akhir-akhir ini rakyat disuguhkan geliat intrik partai, intrik lembaga yudikatif dan eksekutif hingga intrik moral punggawanya Belum reda kepanikan langkanya minyak tanah akibat konversi gas pemerintah, kini cerita kenaikan BBM untuk yang kesekian kali mulai menghantui kehidupan masyarakat kita. Efek samping yang dirasakan masyarakat kelas bawah sangat terasa. Rakyat tidak tenang..sensitif..cenderung emosi di sesamanya. Baca selebihnya »

Deavies Sanggar Matahari…Konser Yang Tidak Masuk MTV

Dikirim Goresan Cerita pada Mei 26, 2008 oleh anggitmime

Deavies Sanggar Matahari…nama komunitas itu aku dengar sekitar 3 tahun yang lalu. 3 tahun mengawali peradaban baru ku di kota Bogor. Saat itu masa pencarian identitas ruang berkesenian masih kabur, kemudian berkenalanlah aku dengan mereka. Meski terhitung lambat mengenali sepak terjang mereka di negeri ini, tetap saja manfaat untuk sekedar rendah hati membuatku bangga dekat dengan mereka. Kesahajaan dan keterbukaanlah yang menyapaku saat itu. Mereka memang tidak berkedudukan di Bogor tapi inspirator sekaligus penggagas Sanggar Matahari tinggal menetap di kampung Joglo Cisarua Bogor. Dan kini 24 Mei 2008, atau setelah 3 tahun berkenalan aku menyaksikan pertunjukan mereka untuk pertama kalinya. Baca selebihnya »

Fasilitas Publik Makam Raden Saleh

Dikirim Uncategorized pada Mei 13, 2008 oleh anggitmime

Sosok Raden Saleh Syarif Bustaman selalu diidentikan dengan perkembangan seni rupa. Tidak saja di Indonesia, tapi juga di dunia Internasional. Warisan yang ditinggalkan berupa sejarah hidup, pencapaian, karya-karya dan popularitas beliau dinilai sangat berarti bagi bangsa ini. Karena dari sosoknyalah gagasan perkembangan senirupa di Indonesia banyak diadobsi seniman penerusnya. Keberadaan perupa yang terus bertambah dengan karya-karya berbagai tema, gaya, media-teknik dan ide-konseptual yang kreatif. Apalagi perkembangan tersebut juga diiringi dengan tumbuhnya infrastruktur dan suprastruktur semisal gallery, museum, artshop, art dealer, balai lelang, kurator, kolektor, kritikus, pengamat serta media seni rupa. Tak jarang karya seni rupa juga dijadikan investasi yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Keberadaan Raden Saleh dengan karya-karya lukisannya yang melampaui standar kelas dunia serta menjadikannya sebagai maestro seni lukis romantik diperadaban barat, membuat sosoknya sulit dilepaskan sebagai identitas seni rupa Indonesia sepanjang masa. Tak salah dan sudah semestinya bangsa ini memberikan penghargaan sebesar-besarnya atas peran beliau ini. Baca selebihnya »

Agung Psiko : “Ini Hari Boemi Yahh…!? “

Dikirim Goresan Berita pada Mei 13, 2008 oleh anggitmime

Hari bumi pada 22 April 2008 di kota bogor diperingati lebih meriah. Dengan kawalan beberapa teman komunitas yang tergabung pada “Komunitas Bogor Yeuh” yaitu kumpulan beberapa kelompok komunitas yang menghuni kota bogor seperti ” perkumpulan Salam”, “komunitas Kalam”, “Kantong Permen”, Fossbo, Bengkel AO dsb. Menurut seorang kawan (agungpsiko dan Lutfi SALAm) Kepanitiaan Bogor Yeuh ini awalnya berlaku sebagai aspek formal dari penyelenggaraan kegiatan (bahasa proposal). Namun dalam perkembangan terakhirnya mampu melibatkan anggota DPRD untuk ikut berpartisipasi dalam kepanitiaan hari bumi kali ini. Keterlibatan sebagai dukungan ini mungkin perlu diperhitungkan kawan-kawan komunitas di masa-masa yang akan datang di kota bogor.

Baca selebihnya »

Reggae Bogor….Dansa Penebar Semangat Damai

Dikirim Goresan Berita pada Maret 23, 2008 oleh anggitmime

Tidak ada ungkapan yang pas untuk menggambarkan situasi sabtu 15 maret itu. Semua nampak puas, terhibur dan membaur satu sama lain. Tidak peduli kasta, ras, golongan maupun jenis kelamin. Semua menikmati suasana damai, segala perbedaan tidak lagi berarti, luruh dalam kesatuan harmonisasi. Hanya satu yang membuat mereka lebur, yaitu ’rasa’. Rasa yang mengendap dalam jiwa masing-masing individu. Rasa untuk menikmati alunan irama musik reggae tanpa beban. Seringan dan sedalam ungkapan “JAH BLESS US”

Baca selebihnya »

Selamat Jalan Kawan……..In Memoriam AJI SARSITO Kampoeng Bogor

Dikirim Uncategorized pada Maret 21, 2008 oleh anggitmime

Seorang teman telah terlebih dahulu pulang. Teman yang menyenangkan, teman yang selalu meninggalkan kesan baik dihati. Terima kasih jika langkah sempat menemani dan mohon maaf jika mungkin pernah tersakiti. Semoga langkahnya lebih tenang kini. Selamat Jalan AJI…….(keluarga Besar Kampoeng Bogor)

Barisan kalimat pesan singkat itulah yang bisa terucap dalam hati, tak ada lukisan kata-kata lagi untuk diungkapkan. Termasuk keberanian untuk menuliskan apa yang menjadi perasaan kami. Pagi itu selasa 4 Maret 2008 saya dikejutkan sebuah sms yang bernada ungkapan duka cita. Seorang kawan yang kami cintai telah meninggal dunia, berpulang menghadap sang penciptanya….AJI SARSITO, humas Kampoeng Bogor yang peran besar terakhirnya terlihat dalam pergelaran Festival Budaya Cap Go Meh beberapa waktu lalu.

Baca selebihnya »

Cap Go Meh 2008 (2559) Bogor Makin Meriah….Tradisi Pemersatu Warga Bogor

Dikirim Goresan Berita pada Maret 21, 2008 oleh anggitmime

Bogor cuaca seharian itu mendung pekat. Sesekali diselingi hujan yang nampak rajin menyirami tanah Pajajaran. Udara yang terhembus pun cukup dingin menyentuh kulit, membuat orang malas untuk menanggalkan jaket/baju hangat. Kondisi seperti ini sebenarnya cukup wajar terjadi di kota ini. Sebuah kondisi yang menjadi penciri sekaligus identitas local yang cukup dikenal orang luar daerah. Karena wajar, bagi sebagian warga hal itu justru dianggap berkah. Malahan kondisi mendung dan hujan tadi justru menjadi penyemangat bagi mereka yang hari itu akan melaksanakan pagelaran besar yang terjadi sekali dalam setahun. Ya agenda budaya Cap Go Meh 2008 Bogor Street Fest.

Baca selebihnya »

Melihat Kekayaan Sejarah Dalam “Pameran Batik Obin Dan Kebaya Peranakan”

Dikirim Goresan Berita pada Februari 23, 2008 oleh anggitmime

Kurun waktu 2 Februari hingga 10 Februari kemarin ada pemandangan menarik di Lobby Botani Square. Nuansa merah kental tersaji disana, beberapa kebaya unik nampak tersaji disana. Deretan display kebaya itu berpadu dengan Liong panjang simbol budaya etnis Tionghoa. Tidak itu saja, pengunung disana akan dihadapkan dengan lambaian lampion dan pernak pernik berbau Imlek. Yah…tidak heran jika itu terjadi di tempat ini. Selain moment Imlek dan pekan promo tematis Botani Square (Starry red) kegiatan itu juga merupakan rangkaian Cap Go Meh 2008, Bogor Festival. Sebuah kegiatan yang mengadopsi tradisi budaya yang terjadi di kota ini sejak ratusan tahun lalu.

Baca selebihnya »