Tak terbantahkan keceriaan anak-anak senin pagi itu. Mereka dengan antusias dan semangat mendengarkan penjelasan dari pemandu tentang lokasi yang mereka kunjungi. Serombongan anak-anak kelas satu hingga kelas enam SD dari sebuah sanggar di Desa Sukaresmi itu tengah mengikuti kegiatan jalan-jalan yang bernuansa sejarah. Disaat teman-temannya yang lain mengisi liburan dengan berkunjung ke tempat wisata yang padat, anak-anak asuhan sanggar KASO (Kelompok Anak Sukaresmi Ok) ini memilih alternatif liburan yang lain. Liburan di jalan bersejarah, Jalan Raya Pos
Adalah komunitas Kampoeng Bogor yang konsen dengan kegiatan sejarah dan perkembangan wilayah Bogor dari masa ke masa yang menggagas kegiatan ini. Kegiatan bernuansa Heritage Tour ini dinamakan Liburan Di Jalan Raya Pos (Groote Post Weg). Mereka kemudian bekerjasama dengan KASO untuk melaksanakan kegiatan liburan tersebut. Dalam Liburan Di Jalan Raya Pos ini anak-anak itu diajak menyusuri dan mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang tersebar di sepanjang jalan yang di bangun abad
18 ini. Tahun 1808 Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman Willem Daendels membangun jalan yang membentang dari Anyer hingga Panarukan sejauh 1.000 km. Jalan yang pada masa pembangunannya menimbulkan korban ribuan nyawa ini melintasi Bogor yang saat itu terdapat rumah peristirahatan Gubernur Jenderal (Istana Bogor). Jalan ini melintasi jalur Jakarta-Bogor / Jl Cibinong-Bogor, Warung Jambu ke Jl A Yani, Jl Jendral Sudirman, Jl Ir H Juanda, Jl Surya Kencana terus ke Sukasari, Tajur hingga Gadog.
“Kegiatan Heritage Tour ini kami selenggarakan dalam rangka mengenalkan sejarah kota kepada anak-anak”. Ungkap Uthie ‘Kampoeng Bogor’ yang diiyakan Indra koordinator KASO
Untuk kegiatan Liburan Di Jalan Raya Pos kali ini anak-anak diajak menyusuri sejarah dari Jl A Yani hingga perbatasan Jl Ir H Juanda dan Surya Kencana. Disepanjang perjalanan anak-anak tampak asyik menyimak cerita sejarah dari pendamping/pemandu. Kemudian mereka mampir dan mengunjungi bangunan tua yang ada di sepanjang jalan ini. Kunjungan pertama adalah Museum PETA yang bangunannya sekarang satu kompleks dengan PUSDIKZI di Jl Sudirman. Bangunan yang masa awalnya menjadi barak pasukan pengawal Istana dan pusat pendidikan Perwira PETA pada masa pendudukan Jepang ini menjadi perhatian anak-anak. Di tempat itu mereka mendapat cerita dan wawasan dari pengelola museum.
Kunjungan berikutnya adalah ke gedung BAKORWIL yang dulunya merupakan gedung Asisten Residen. Di gedung peninggalan Belanda ini anak-anak selain mendapatkan tutur sejarah dari pengelola gedung juga diajak berkeliling melihat lihat ruangan yang masih kental ciri kolonialnya. Pada salah satu ruangan terdapat sebuah kaca jendela bertuliskan nama dan tahun penghuni yang bisa dilihat dengan menempelkan kertas di belakangnya. Usai berkeliling di gedung Bakorwil anak-anak melanjutkan perjalanan menuju Museum Tanah yang gedungnya merupakan gedung laboratorium penelitian pertanian era Belanda. Terlihat arsitektur gedung yang corak dan cirinya masih tersisa. Selain berkunjung ditempat yang disinggahi, sepajang perjalanan dari satu lokasi ke lokasi kunjungan lainnya, anak-anak juga dituturkan cerita dan sejarah tempat-tempat yang dilewati seperti Air Mancur, Rs Salak, Istana Bogor, Regina Pacis, Hotel Salak, Balaikota, Gereja Katedral dan Zebaoth, SMP/SMA 1 Bogor, LIPI, Kantor Pos, BTM, Museum Zoologi dan lainnya. Di akhir kegiatan anak-anak yang masih bersemangat itu melakukan Heritage Game berupa mencocokan gambar (Foto tempo dulu) dengan nama tempat yang dikunjungi. Sebelumnya mereka sudah di edukasi oleh para pemandu dari Kampoeng Bogor
Kegiatan ini kiranya akan sangat bermanfaat sebagai sarana belajar mengenali sejarah sekaligus wisata. Khususnya bagi institusi pendidikan, komunitas maupun pihak lain yang tertarik dengan wisata sejarah. Untuk itu Kampoeng Bogor mengaku siap memfasilitasi rangkaian perjalanan dan kegiatan Heritage Tour ini. Bagi yang berminat dapat menghubungi sekretariat ‘Rumah Kampoeng Bogor’ Jl Pangeret Ujung No 12 RT 01/12 Tegal Gundil Bogor 16152, kontaknya atas nama Uthie 08567174888. (Ank_z)





Hari bumi pada 22 April 2008 di kota bogor diperingati lebih meriah. Dengan kawalan beberapa teman komunitas yang tergabung pada “Komunitas Bogor Yeuh” yaitu kumpulan beberapa kelompok komunitas yang menghuni kota bogor seperti ” perkumpulan Salam”, “komunitas Kalam”, “Kantong Permen”, Fossbo, Bengkel AO dsb. Menurut seorang kawan (agungpsiko dan Lutfi SALAm) Kepanitiaan Bogor Yeuh ini awalnya berlaku sebagai aspek formal dari penyelenggaraan kegiatan (bahasa proposal). Namun dalam perkembangan terakhirnya mampu melibatkan anggota DPRD untuk ikut berpartisipasi dalam kepanitiaan hari bumi kali ini. Keterlibatan sebagai dukungan ini mungkin perlu diperhitungkan kawan-kawan komunitas di masa-masa yang akan datang di kota bogor.

Bogor cuaca seharian itu mendung pekat. Sesekali diselingi hujan yang nampak rajin menyirami tanah Pajajaran. Udara yang terhembus pun cukup dingin menyentuh kulit, membuat orang malas untuk menanggalkan jaket/baju hangat. Kondisi seperti ini sebenarnya cukup wajar terjadi di kota ini. Sebuah kondisi yang menjadi penciri sekaligus identitas local yang cukup dikenal orang luar daerah. Karena wajar, bagi sebagian warga hal itu justru dianggap berkah. Malahan kondisi mendung dan hujan tadi justru menjadi penyemangat bagi mereka yang hari itu akan melaksanakan pagelaran besar yang terjadi sekali dalam setahun. Ya agenda budaya Cap Go Meh 2008 Bogor Street Fest.
Kurun waktu 2 Februari hingga 10 Februari kemarin ada pemandangan menarik di Lobby Botani Square. Nuansa merah kental tersaji disana, beberapa kebaya unik nampak tersaji disana. Deretan display kebaya itu berpadu dengan Liong panjang simbol budaya etnis Tionghoa. Tidak itu saja, pengunung disana akan dihadapkan dengan lambaian lampion dan pernak pernik berbau Imlek. Yah…tidak heran jika itu terjadi di tempat ini. Selain moment Imlek dan pekan promo tematis Botani Square (Starry red) kegiatan itu juga merupakan rangkaian Cap Go Meh 2008, Bogor Festival. Sebuah kegiatan yang mengadopsi tradisi budaya yang terjadi di kota ini sejak ratusan tahun lalu.