Ini adalah sebuah tulisan yang menarik perhatian saya…tanpa tendensi apa-apa, ini sekedar berbagi wacana bahwa sejarah kita sampai saat ini adalah warisan Hegemoni ORBA…Mari kita coba untuk tidak saling curiga, bagaimanapun itu tetaplah sebuah sejarah…pada akhirnya saya berkesimpulan untuk menampilkannya utuh….MERDEKAA….!!!!
Oleh Bonnie Triyana
Rakyat Merdeka, 22 april 2006
“History is for human self-knowledge … the only clue to what man can do is what man has done. The value of history, then, is that it teaches us what man has done and thus what man is.”
R. G. Collingwood
SETIAP kali pembicaraan tentang komunisme muncul, yang terlintas di dalam memori kolektif masyarakat Indonesia adalah pembunuhan enam jenderal dan satu perwira pertama Angkatan Darat di Lubang Buaya; tarian amoral “ harum bunga “ Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) ketika mengiringi penyiksaan tersebut dan keberingasan kaum merah dalam menyerang lawan-lawan politiknya, mirip kejadian yang digambarkan di dalam film “ Pengkhianatan G30S/PKI “ karya Arifin C. Noer dan buku-buku pelajaran sejarah di era Orde Baru.
Hari Senin 17 April 2006 kemarin aparat dikejutkan oleh penemuan grafiti palu arit yang terdapat di badan jalan di depan Istana Bogor. Entah siapa yang menggambar dan entah apa motivasinya, yang pasti hujatan dan kecaman sudah datang dari berbagai penjuru negeri ini. Seperti luka lama yang terbuka kembali, lambang palu arit ini sudah cukup membuat orang bergidik ngeri dan mencibir benci. Dan kini Polri telah menerjunkan tim intelijen untuk mengusut pelaku di balik beredarnya lambang yang pernah digunakan PKI itu. Alasannya: Tap MPRS No. XXV/ 1966 tentang larangan ajaran Marxisme/Leninisme di Indonesia.


Gigs Tony Q di GOR Pajajaran malam itu (13 September 2006) mendapat sambutan cukup meriah. Crowd terlihat asyik menikmati ritme reggae malam itu. Sesekali mereka juga ikut mendendangkan lirik bersama Tony. Di bibir panggung nampak serombongan anak muda berambut gimbal ikut berdansa. Yah…malam itu serasa reggae night saja, padahal Tony hanyalah bagian dari bintang tamu yang perform di acara “Starmild Chillout” malam itu. Nampaknya kehadiran Tony di Bogor juga dimanfaatkan beberapa komunitas reggae untuk muncul, salah satunya Reggae gunung batu yang datang bersama scooter uniknya, mereka berharap ada event reggae rutin di Bogor. Semoga saja itu dapat terlaksana. Uuuu…yaaahhh..Pesta pantai…pesta pantai…kaki-kaki telanjang bergoyang-goyang….More…more Tony. Pkoknya asyik deh
Ada pepatah yang mengatakan ‘carilah ilmu meski itu hingga ke negeri China’. Ya..itu memang sekedar pepatah, namun sangat berkesan bagi saya. Kadangkala kita tidak melihat sesuatu yang kecil dan dekat sebagai pelajaran. Pengalaman sehari-hari sering terlupakan dan berlalu begitu saja. Berbulan-bulan selama di Bogor saya coba mencari pengalaman dan tambahan ilmu dari tempat-tempat yang selama ini dianggap sebagai monumen proses berkesenian. Kadang ke Jogja, Jakarta maupun tempat lain, tapi belum di Bogor sendiri. Berbulan-bulan dalam proses pencarian seakan menjadi semakna dengan sehari saja saya menemukan hal baru atau ilmu baru. Dan inilah yang beberapa waktu lalu saya alami di kawasan jalur Puncak. Jalur Puncak adalah adalah jalur yang sering dilewati untuk sekedar menyegarkan otak orang-orang jakarta dan orang-orang yang berkepentingan dengan itu. Saya sendiri hanya sekali waktu melewatinya. Tiap berkendara ke sana yang saya pikirkan adalah refresing dan senang-senang. Dan hal itu berlalu begitu saja tanpa saya sadari. Ternyata ada ilmu di Cisarua.
Entah mimpi apa yang dialami salah satu rekan saya di Bengkel AO, sebut saja Okta. Ini adalah nama sebenarnya. Hari itu minggu 6 Agustus 2006 jam 12 siang. Sebuah kejadian atau peristiwa yang akan dia ingat sebagai sejarah hidupnya. Boleh dikatakan di stasiun Bogor (lokasi peristiwa) dia memiliki kenangan yang tak terlupakan.
jalanan, yang tergambar di benak awal saya adalah kekerasan, kumpulan preman atau mungkin pelacuran. Sekumpulan orang yang hidup di terminal dengan tujuan yang tidak jelas. Tetapi itu dulu ketika saya masih awam dengan terminal. Dulu ketika terminal masih saya anggap sekedar tempat transit ketika melakukan perjalanan dari kota ke kota lainnya. Dan ketika itu saya tidak menyadari bahwa disitu ternyata ada kehidupan, ada lingkungan yang sama dengan kita yang tinggal di perkampungan.
Komentar Terakhir