Arsip untuk September, 2006

25
Sep
06

Palu Arit di Negeri Kambing (Hitam)

Ini adalah sebuah tulisan yang menarik perhatian saya…tanpa tendensi apa-apa, ini sekedar berbagi wacana bahwa sejarah kita sampai saat ini adalah warisan Hegemoni ORBA…Mari kita coba untuk tidak saling curiga, bagaimanapun itu tetaplah sebuah sejarah…pada akhirnya saya berkesimpulan untuk menampilkannya utuh….MERDEKAA….!!!!

Oleh Bonnie Triyana
Rakyat Merdeka, 22 april 2006

“History is for human self-knowledge … the only clue to what man can do is what man has done. The value of history, then, is that it teaches us what man has done and thus what man is.”
R. G. Collingwood

SETIAP kali pembicaraan tentang komunisme muncul, yang terlintas di dalam memori kolektif masyarakat Indonesia adalah pembunuhan enam jenderal dan satu perwira pertama Angkatan Darat di Lubang Buaya; tarian amoral “ harum bunga “ Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) ketika mengiringi penyiksaan tersebut dan keberingasan kaum merah dalam menyerang lawan-lawan politiknya, mirip kejadian yang digambarkan di dalam film “ Pengkhianatan G30S/PKI “ karya Arifin C. Noer dan buku-buku pelajaran sejarah di era Orde Baru.

Hari Senin 17 April 2006 kemarin aparat dikejutkan oleh penemuan grafiti palu arit yang terdapat di badan jalan di depan Istana Bogor. Entah siapa yang menggambar dan entah apa motivasinya, yang pasti hujatan dan kecaman sudah datang dari berbagai penjuru negeri ini. Seperti luka lama yang terbuka kembali, lambang palu arit ini sudah cukup membuat orang bergidik ngeri dan mencibir benci. Dan kini Polri telah menerjunkan tim intelijen untuk mengusut pelaku di balik beredarnya lambang yang pernah digunakan PKI itu. Alasannya: Tap MPRS No. XXV/ 1966 tentang larangan ajaran Marxisme/Leninisme di Indonesia.

Lanjutkan membaca ‘Palu Arit di Negeri Kambing (Hitam)’

23
Sep
06

Letupan Seni Di Kampung Joglo

JOGLO (17/09). Sebuah sejarah kembali terukir, kali ini ada di kampung Joglo Cisarua Bogor.Sebuah agenda budaya tergelar disana. Berkumpilnya seniman-seniman muda di kampung tersebut menumbuhkan apresiasi masyarakat yang selama ini agak tertutup untuk masalah seni. Sebuah pementasan teater di gelar dihalaman villa seorang warga. Komunitas Teater Gunung demikian nama penyelenggara agenda budaya kali ini. Adalah sosok H. Freddyarsi yang memberikan semangat terselenggaranya acara tersebut. Acara digelar dari jam 8 malam tepat serta berakhir jam 11 malam. Diawali pentas tari oleh anak-anak sebagai pembuka, dilanjutkan teater dari KOTAG dengan lakon “Darah Memerah Bumi Membasah” karya H Freddyarsi. Kemudian berturut-turut tampil kelompok musikalisasi Puisi seperti DENTING (Jakarta Timur), Saung Pangulinan (Pakuan Bogor) dan kelompok DEAVIES (Bekasi). Ada juga spontanitas performance dari BengkelAO yang menampilkan Mimestreet/Pantomime, Javaties dengan kolaborasi akustik, KTB (Komunitas Teater Bekasi) dengan monolog. Sebelimnya ada spontanitas juga dari Nurul warga Cianjur yang menampilkan Tari Jaipong. Secara keseluruhan meski sederhanan acara malamitu sukses. Dukungan dari lembaga warga (RT/RW) cukup memuluskan agenda malam itu, walau kabarnya agenda itu ditentang oleh Ustad kampung Joglo yang juga mengadakan “acara” tandingan. Acara malam itu cukup menghibur, setidaknya bagi warga joglo ini adalah tontonan baru. Menurut Yoel, Hamid dan juga Ratih selaku panitia inti. Acara malam itu sebenarnya diperuntukan malam 17-an kemaren di balai desa. Namun karena lain satu hal, utamanya terkait tempat yang sebelumnya telah dijanjikan, acara urung diadakan. “akhirnya kami putuskan pentas disini saja”kata Yoel. Menurut Papi Freddyarsi, sebelum acara apresiasi malam ini. Pagi dan siangnya diadakan diskusi dari teman-teman Unas Jakarta, Pakuan Bogor, Unisma Bekasi, denting, deavies dan UNJ jakarta. Diskusi tersebut dimaksudkan untuk memfasilitasi gagasan pembentukan Forum Musikalisasi puisi se Indonesia. Dimana jaringannya telah terbentuk di daerah-daerah. Apapun bentuknya Forum ini dimaksudkan untuk memajukan musikalisasi puisi di Indonesia. (anggit_Ao)

18
Sep
06

Seorang Radjiman di Ciluar

“RADJIN MAN”

Tokoh yang satu ini mungkin tidaklah istimewa bagi orang kebanyakan. Bahkan tak jarang beliau ini dianggap menganggu kenyamanan orang-orang bermobil yang ingin berhenti atau parkir. Jangankan ucapan terimakasih, raut muka sewot sering ditunjukkan sebagai balasan dengan sombong, merasa mampu telah memberi uang jasa seribu perak.   

Pak Radjiman, demikian nama tokoh kita kali ini. Beliau adalah tukang parkir sekaligus tenaga kebersihan di sebuah Ruko kawasan simpang POMAD ciluar Bogor. Dengan sisa-sisa kekuatan fisik beliau berlarian dari ujung halaman ke ujung halaman parker lain. Kemudian dengan kemampuan navigasi laulintas seadanya terus saja pasang badan untuk membantu “meloloskan” mobil yang akan keluar masuk kompleks tersebut, bisa dibayangkan bagaimana resiko yang dihadapinya. Ruko tempat kerja pak Radji ini berada persis di pinggir jalan Bogor-Cibinong/ Jakarta yang macetnya sungguh luar biasa. Tak beda dengan Jakarta atau Depok, dimana di sela-sela kemacetan pasti ada saja kendaraan yang nylonong untuk lolos dengan kecepatan tinggi. Jadi kalau mau jujur jasa pak Radji ini sangatlah membantu.

Yang unik dari beliau ini selain kelucuan yang ditimbulkan dari keluguan dirinya, juga latarbelakang sebelum beliau menjadi tukang parkir. Pria tua asal Sragen ini sejak tahun 60-an akhir tinggal di Bogor. Lahir 65 tahun yang lalu, memiliki 7 orang anak, terdiri dari 4 laki-laki dan 3 perempuan. Beliau adalah pensiunan PU dengan pangkat terakhir Pengatur/IIB. Salah seorang anak laki-lakinya mengalami stress. Dan sekilas pak Radji ini selalu memiliki optimistis dalam setiap tindakannya, tengok saja pengalamannya sebagai Pegawai PU dari 1970 dan pensiun tahun 2000. Kemudian beliau coba wirausaha dengan dagang di Pasar dan buka warung disamping Ruko sejak 2002. Semua usahanya itu kini sudah gulung tikar demi sang anak yang stress tadi (pengobatan), hampr tidak tersisa buat dirinya. Ke 5 anaknya sudah berkeluarga, mereka tinggal dirumah pak Radji di kampung Mandala Ciparigi. Sedang pak Radji sendiri mendiami Gubuk koyak sekaligus menjaga tanah titipan orang yang letaknya persis di samping Ruko ini.

Pak Radji sendiri cukup percaya diri untuk tidak dikasiani. Dalam menikmati hari tuanya dengan pensiun 1 juta seratus, yang langsung habis buat anaknya yang tinggal dan kuliah di Bandung. Mantap menjalani hidupnya sebagai tukang parkir dan tenaga kebersihan di Ruko POMAD. Upah 150 ribu sebagai tenaga kebersihan ditambah pendapatan parkir rata-rata 8000 sehari, tidak menghalangi senyum beliau untuk terus ramah dan optimis. Priiiiiiiiiiiiiiittttt…terus kiri…bales kanan….hooppp…ya cukup, telah menjadi warna tersendiri yang kadangkala dirindukan penghuni ruko lainnya, termasuk saya. (Anggit_BengkelAO)

16
Sep
06

Tony Q di Bogor

gragas.fotopagesGigs Tony Q di GOR Pajajaran malam itu (13 September 2006) mendapat sambutan cukup meriah. Crowd terlihat asyik menikmati ritme reggae malam itu. Sesekali mereka juga ikut mendendangkan lirik bersama Tony. Di bibir panggung nampak serombongan anak muda berambut gimbal ikut berdansa. Yah…malam itu serasa reggae night saja, padahal Tony hanyalah bagian dari bintang tamu yang perform di acara “Starmild Chillout” malam itu. Nampaknya kehadiran Tony di Bogor juga dimanfaatkan beberapa komunitas reggae untuk muncul, salah satunya Reggae gunung batu yang datang bersama scooter uniknya, mereka berharap ada event reggae rutin di Bogor. Semoga saja itu dapat terlaksana. Uuuu…yaaahhh..Pesta pantai…pesta pantai…kaki-kaki telanjang bergoyang-goyang….More…more Tony. Pkoknya asyik deh

15
Sep
06

Ada Ilmu Di Cisarua

Ada pepatah yang mengatakan ‘carilah ilmu meski itu hingga ke negeri China’. Ya..itu memang sekedar pepatah, namun sangat berkesan bagi saya. Kadangkala kita tidak melihat sesuatu yang kecil dan dekat sebagai pelajaran. Pengalaman sehari-hari sering terlupakan dan berlalu begitu saja. Berbulan-bulan selama di Bogor saya coba mencari pengalaman dan tambahan ilmu dari tempat-tempat yang selama ini dianggap sebagai monumen proses berkesenian. Kadang ke Jogja, Jakarta maupun tempat lain, tapi belum di Bogor sendiri. Berbulan-bulan dalam proses pencarian seakan menjadi semakna dengan sehari saja saya menemukan hal baru atau ilmu baru. Dan inilah yang beberapa waktu lalu saya alami di kawasan jalur Puncak. Jalur Puncak adalah adalah jalur yang sering dilewati untuk sekedar menyegarkan otak orang-orang jakarta dan orang-orang yang berkepentingan dengan itu. Saya sendiri hanya sekali waktu melewatinya. Tiap berkendara ke sana yang saya pikirkan adalah refresing dan senang-senang. Dan hal itu berlalu begitu saja tanpa saya sadari. Ternyata ada ilmu di Cisarua.

Lanjutkan membaca ‘Ada Ilmu Di Cisarua’

15
Sep
06

Mentalitas Di Stasiun Bogor

Entah mimpi apa yang dialami salah satu rekan saya di Bengkel AO, sebut saja Okta. Ini adalah nama sebenarnya. Hari itu minggu 6 Agustus 2006 jam 12 siang. Sebuah kejadian atau peristiwa yang akan dia ingat sebagai sejarah hidupnya. Boleh dikatakan di stasiun Bogor (lokasi peristiwa) dia memiliki kenangan yang tak terlupakan.

Kisahnya berawal dari pesan singkat (sms) yang saya kirim ke Handphone-nya. Dalam sms itu saya menghendaki dia untuk datang ke Bogor guna melaksanakan rencana-rencana yang sudah kami susun bersama sebelumnnya. Rencananya kami akan membersihkan/ beres-beres lokasi yang akan kami jadikan tempat usaha Dalam balasan sms-nya dia menyebutkan akan segera kesana (menuju Bogor) dari Depok dengan KRL. Posisi saya ketika menerima pesan tersebut ada di taman kencana, sebuah taman dekat kebun raya sebelah lapangan sempur. Saat itu saya sedang melakukan rapat dengan beberapa teman seniman untuk menggagas agenda budaya 17 Agustus nanti. Dari taman kencana rapat pindah ke Jl Bangbarung raya Tegal Gundil. Lokasi ini lebih jauh untuk akses menuju stasiun Bogor.

Lanjutkan membaca ‘Mentalitas Di Stasiun Bogor’

15
Sep
06

Eligi Di (Terminal) Baranangsiang

Mendengar nama komunitas terminal ataupun jalanan, yang tergambar di benak awal saya adalah kekerasan, kumpulan preman atau mungkin pelacuran. Sekumpulan orang yang hidup di terminal dengan tujuan yang tidak jelas. Tetapi itu dulu ketika saya masih awam dengan terminal. Dulu ketika terminal masih saya anggap sekedar tempat transit ketika melakukan perjalanan dari kota ke kota lainnya. Dan ketika itu saya tidak menyadari bahwa disitu ternyata ada kehidupan, ada lingkungan yang sama dengan kita yang tinggal di perkampungan.

Lanjutkan membaca ‘Eligi Di (Terminal) Baranangsiang’

06
Sep
06

Sepotong “Ruang” Di Tugu Kujang

Saya tidak menyangka…ternyata kegelisahan kita ini sama”. Ini adalah sepenggal kalimat yang berhasil saya kutip dalam sebuah diskusi ringan di Saung Tegal Gundil. Sebuah tempat dimana saya biasa menghabiskan malam panjang akhir-akhir ini. Obrolan itu sebenarnya tidak terjadi begitui saja. Ternyata obrolan itu memang sudah menjadi agenda rutin beberapa teman untuk membicarakan seni dan kesenian di Bogor. Dan saya sendiri sebagai kapasitas pribadi baru bergabung di pertemuan keempat. Namun yang memicu perhatian saya dalam obrolan tersebut adalah obyek bahasan dan juga pribadi atau personel yang datang. Mereka cukup plural dan heterogen. Dalam pertemuan itu saya mengenal sosok emen seorang gitaris band indie yang cukup peka dengan masalah sosial, Kibaryesa seorang karyawan kantor pajak yang dekat dengan dunia minoritas. Kemudian ada Heru seorang pengamen bus jalur Bogor-UKI pp yang cukup idealis menyebut aksinya sebagai perang dan tugas negara. Ada juga sosok Bewok, seorang pengembara yang pernah aktif di sanggar-sanggar teater, penduduk TIM cikini jakarta, dan kini mendiami kawasan terminal Baranang siang untuk meneruskan prosesnya. Ada juga temen-temen teater kampus, dan kawan intelektual dari tegal gundil serta temen-temen kalam sendiri. Sebuah diskusi panjang yang sudah lama saya rindukan. Diskusi itu sebenarnya tak ubahnya dengan sharing masing-masing peserta, curhat seni ataupun curhat tentang situasi Bogor yang berkaitan dengan ekspresi seni tentunya. Sebagai orang baru saya lebih banyak mendengar curhatan-curhatan itu. Dari soal miskinnya karya yang tampil di Bogor hingga soal ruang publik yang belum termanfaatkan. Setelah melalui eksplore wacana masing peserta akhirnya kami yang berkumpul malam itu sepakat melakukan sesuatu. Masing-masing turut ambil peran dalam upaya perwujudan tersebut. Saat itu digagaslah sebuah aksi seni yang akan melibatkan beberapa komunitas seni & kreatif yang ada di bogor. “Bogor yeuh” , demikian kami menamakan judul acara tersebut. Targetnya kami akan melakukan performance 16 Agustus malam. Saat itu saya kebagian peran untuk merangkai acara itu.

Lanjutkan membaca ‘Sepotong “Ruang” Di Tugu Kujang’




 

September 2006
S S R K J S M
    Okt »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930