BOGOR (17/10) Sebuah ketidak adilan kembali terjadi di bogor, petang itu setelah waktu buka puasa sebuah yamaha mio menabrak seorang bapak yang hendak menyeberang. Bapak itu baru turun angkot dan hendak menyebrang, sementara Mio berjalan kencang pada jalur yang tidak seharusnya. Akibatnya tabrakan tidak bisa dihindari. Pria tua asal Garut yang baru pulang kerja mengalami luka dalam yang tidak ringan. Ironisnya anak muda penunggang Mio tadi hanya memberinya uang ganti rugi. Tidak ada tanggung jawabnya untuk mengantar pulang atau mengajaknya berobat. Ironis yang dilakukan oleh oknum generasi muda Bogor, dan mungin juga oknum anggota klub motor yang saat ini merebak di Bogor. Mungkin sudah saatnya di Bogor diadakan pembinaan moral bagi generasi seperti ini
Arsip untuk Oktober, 2006
Sabtu Di 14 Oktober
Sabtu ini rasanya aku pengen berlibur. Beberapa hari setelah merasa “blank” dengan tenaga dan pikiran aku membutuhkan liburan. Namun berhubung liburan untuk jarak jauh tidak memungkinkan, mungkin liburan ke tempat-tempat yang tidak umum menjadi pilihan alternatif. Ini sejalan dengan ajakan kawan kuliahku dulu untuk main ketempatnya. Akhirnya aku coba memaknai mainku ini sebagai liburan. Jadi perjalanan yang sebetulnya biasa-biasa saja aku buat sesantai dan senyaman-nyamannya. Cukup lama aku tidak ke Jakarta. Kota yang jarak normalnya cuma 20 menit dari Bogor ini sudah 4 bulan tidak kukunjungi. Kebanyakan aku cuma asyik aja di Bogor. Persiapan mulai aku susun. Pertama-tama aku mengatur jadwal atas apa yang aku lakukan disana. Main tempat saudara di Kramatjati, mengunjungi teman, ngejam musik dengan teman lama, ke Mangga Dua, dan yang paling penting jalan-jalan menikmati jakarta yang ditinggal penduduknya berlibur keluar.
Berangkat dari Stasiun bogor sekitar jam jam 6 sore di hari jum’atnya. Tujuannya agar malam ini aku bisa nginap di tempat sodara dan paginya bisa langsung jalan-jalan. Sengaja aku pilih kereta karena ini adalah moda yang menjadi pilihan favorit jika aku ke Jakarta. Sungguh situai yang kontras dengan hari-hari sibuk lainya. Kereta ekonomi yang aku tumpangi tidak menunjukka kepadatan seperti hari-hari biasannya. Meski kereta itu sesungguhnya jauh dari kata nyaman, tapi perjalanan itu aku buat nyaman dalam perasaan. Turun di Kalibata aku melanjutkan perjalanan ke Kramatjati dengan kopaja 57. Sesampai di rumah saudara segelas teh hangat dan semangkuk soto aku habiskan guna menuntaskan dendam pas buka puasa tadi. Dan malam itu aku benar-benar istirahat di rumah saudara.
Pagi jam 7.00 kawanku mengabari sudah sampai dimana. Padahal posisiku masih bersantai di di tempat saudara. Setelah berucap basa-basi sedikit akupun menuju kearah Kuningan. Temanku tadi kost di daerah itu. Berangkat kembali menuju kalibata. Untuk ke Kuningan aku memutuskan naik KRL ke Kota dulu setelahnya nyambung dengan Busway turun di Halte Karet. Well perjalanan KRL menuju kota kali ini lumayan padat meski tidak padat-padat amat. Kereta yang aku tumpangi itu masih mngangkut para pekerja urban yang tetap beraktifitas dihari sabtu. Disitu tidak ada temapt duduk yang tersisa. Dan aku sangat menikmati perjalanan ini. Pemandangan jalan lengang di bawah ketika kereta melintas di kawasan stasiun atas (Cikini-Jayakarta) membuat frame dalam pandangan saya sedikit berubah. Ya setelah hampir satu minggu melihat hamparan teh hijau di puncak kini hamparan hitam aspal menggantikannya. Kereta agak melambat ketika memasuki Stasiun Kota. Rupanya antri jalur membuat kereta ini menunggu untuk sesaat. Tiba di stasiun aku putuskan untuk menikmati suasananya sejenak. Stasiun ini tetap tidak berubah, kelihatan kumuh dan kotor di dalamnya, meski diluarnya tampak tembok-tembok stasiun peninggalan belanda itu habis di cat ulang. Diluar pemandangan gedung tua di depan stasiun menyambutku. Pada hari-hari normal pemandangan dan bagunan tua tidak begitu aku perhatikan. Bahkan suasana dalam dan luar stasiun jarang aku gubris. Biasanya ketika datang ke stasiun itu yang terjadi selanjutnya adalah hegemoni untuk selalu terburu-buru seperti orang-orang. Deretan ojeg sepeda yang terparkir rapih dan berseragam cukup meyejukkan. Mereka memarkir rapih sepedanya di bawah pohon. Lanjutkan membaca ‘Sabtu Di 14 Oktober’
Dua Berita..
Pakuan Dilempari Batu
BOGOR (14/10). Disiplin warga negara Indonesia untuk melindungi fasilitas umum sepertinya masih jauh dari kata berhasil. Selain praktek Vandalis pelemparan kereta yang sedang melaju masih kerap terjadi. Seperti Sabtu ini, sebuah kereta Pakuan AC yang melaju dari arah Jakarta menuju Bogor berkali-kali terkena lempara batu dari orang-orang tak bertanggung jawab. Pelemparan yang terjadi ketika kereta memasuki kawasan Depok dan Bogor ini memang tidak menimbulkan korban. Meski demikian akibat dari pelemparan tersebut, disamping menimbulkan kerusakan yaitu kaca-kaca pintu yang pecah dan retak juga menimbulkan ketidak nyamanan para penumpang. Beberapa penympang yang duduk dekat jendela kaca pun akhirnya bergeser menjauh. Mereka merasa keamananya terancam. Hal ini tentunya memunculkan keprihatinan bersama atas kejadian ini. Apalagi ini di bulan puasa.
Lagi Pencurian di Ciluar
CILUAR (15/10). Pencurian kembali marak terjadi di bulan puasa di wilayah Bogor. Dengan modus operandi menjebol gembok kawanan pencuri yang lebih mendekati perampokan beraksi di sebuah Ruko di kawasan Simpang POMAD. Kali ini menimpa kantor sekaligus gudang kredit elektronik ‘Prioritas’. Belum diketahui secara pasti berapa kerugian yang diderita, tapi dari beberapa keterangan yang dihimpun baru sebuah televisi 21 inc yang hilang. Pencuri diduga telah mempelajari situasi sebelumnya. Pencuri sempat dipergoki Endang si penjaga saat baru datang dari Rumahnya jam 6 pagi. Pencurian kali ini adalah yang kedua setelah 2 pekan sebelumnya menimpa Showroom KTM ruko yang berada persis disampingnya. Rawannya tindak kejahatan di bulan puasa ini telah menimbulkan kegeraman beberapa penjaga Ruko lainnya. Ruko batu itu memang tempatnya cukup terbuka. Halaman parkir yang tidak memiliki Portal membuat tiap mobil leluasa memasuki areal tersebut.
SIM Legal yang Gagal….
Berkendara dengan motor sudah menjadi keasyikan saya dari dulu. Sifatnya yang fleksibel dan praktis membuat segela urusan yang sifatnya mendesak jadi mudah untuk di jangkau. Tidak terbayang sama sekali kita mengejar waktu dengan naik angkot atau mobil di Bogor yang sudah sedemikian menjengkelkan macetnya. Bahkan sampai-sampai ini adalah jakarta ke dua. Namun ada beberapa hal yang mengusik ketenangan kala berkendara. Apalagi kalo bukan soal kelengkapan surat-surat. SIM yang terakhir aku pegang sudah kadaluarsa sejak april lalu, itupun masih SIM daerah (Jawa Timur), yang masih berlaku cuma SIM A. Dan kebetulan saya orangnya seneng “Benar” di jalan agar tidak timbul masalah. Beberapa hari ini menjelang puasa kemaren Polresta Bogor intens melakukan razia kendaraan bermotor. Beberapa kali bisa saya temui di Jl Pajajaran, Jalan Baru dan tempat lainnya. Sampai saat itu saya masih untung tidak kena cekal, selalu lolos. Bukan apa-apa hanya sayang dengan 50rb yang akan menguap sia-sia atau malah bisa bikin dosa.
Berangkat dari kegamangan itulah senin kemarin saya putuskan untuk bikin SIM C yang baru. Apalagi dari kawan yang juga seorang polisi menginformasikan tentang adanya Operasi rutin jelang lebaran nanti. Jadi klop-lah dengan niat saya. Ya hitung-hitung jadi warga negara dan warga kota yang baik. Maka ketika jam dan harinya tiba saya mulai mencari informasi tentang bagaimana cara bikin SIM itu. Terus terang dari beberapa SIM yang pernah saya miliki semuanya merupakan hasil pintu belakang alias nembak. Sebelum-sebelumnya saya hanya nunggu dirumah terus jadi. Dan ini menimbulkan penasaran saya. Sekitar jam 10 pagi (setelah ijin kantor) dengan tegas saya menuju ke kantor Polresta. Mudah-mudahan semua lancar tidak ada gangguan. Lanjutkan membaca ‘SIM Legal yang Gagal….’
Peristiwa di Mata Kita
Memaknai sejarah menurut versi kita..?? sebuah ungkapan yang bisa menjadi wacana baru dikalangan kita. Ya…kenapa tidak, beberapa waktu yang lalu dalam perjalanan kebeberapa tempat di Jogja, Jakarta, Bogor hingga Sukabumi hal semacam itu sering saya jumpai.Sejarah yang selama ini termaktum dalam kurikulum ternyata tidak begitu memuaskan. Masyarakat kita sudah cukup pintar untuk memilah seperti apa bentuk ceremony yang harus dilakukan. Meski tidak jarang kepicikan juga melanda beberapa kelompok masyarakat kita. Seperti halnya peringatan 17 Agustus itu harus dengan upacara atau peringatan kesaktian pancasila harus dengan nonton film pemberontakan G30S di malam sebelumnya. Perseberangan gagasan antara kaum muda yang memandang nasionalisme lebih universal (Tidak mengenal hegemoni sistem atau terjebak dalam sistem itu sendiri) dengan generasi pendahulu telah menimbulkan banyak kecaman-kecaman di media massa. Yang muda memandang nasionalisme itu tidak mengenal teritori wilayah, bahkan dengan nasionalisme kita harus mampu menginternasionalkan gagasan dan kerja-kerja kita. Sementara generasi yang lama banyak memandang nasionalisme sebagai pemaknaan wilayah tertentu. Bahkan kalangan elit mempersempit pemaknaan itu dengan otonomi wilayah (cauvinisme) dan pilkada yang polemiknya tidak berkesudahan. Tapi ada juga beberapa forum yang membuktikan perseberangan itu menjadi melunak.
“Metamorfosis Proses”

Belum hilang pegal-pegal di tubuhku, mata beratpun masih terasa. Berangkat pagi pulang larut malam menjadi rutinitasku di satu minggu ini. Ya..ini adalah proses kali ke dua aku bergabung dengan tim Film Independent Bogor. Sebut saja Matahati production atau Kalam entertainment, atau Bogor MovieArt atau apalah terserah pembaca. Karena proses ini sebenarnya bukan garapan satu komunitas saja, tetapi melibatkan banyak pihak yang ikut berkepentingan dengan film ini.
Ada temen-temen kalam dengan sumber daya manusianya, ada sanggar”Yati” dengan talent-talentnya. Kemudian ada Telapak dengan sumberdaya alatnya, Salam dengan SDM dan juga alat, Kotag dan juga Indie Pop Bogor dengan berbagai kemampuan masing-masing. Awalnya proses ini adalah dari sharing sanggar Yati untuk membuat sebuah film sebagai bentuk apresiasi acting anak-anak didiknya. Dari beberapa kali sounding di tempat tongkrongan kami biasanya akhirnya disepakati untuk melakukan produksi bersama. Namun karena adanya keterbatasan masing-masing pihak akhirnya diputuskan untuk mengajak beberapa pihak lain untuk ikut terlibat lebih banyak. Atas pertimbangan inilah maka proses film ini menjadi proses bersama.
‘Metamofosis Sempurna’. Demikian judul scenario yang kami pilih. Skenario garapan Deni yang kali ini akan bertindak sebagai director. Skenario tanpa dialog yang bercerita tentang problem kejiwaan masyarakat saat ini yang digambarkan dengan setting tahun 1940an pada sebuah kampong terpencil. Dimana schizofenia, pedofilia, incest, lesbian dan homo sudah mulai menampakkan cirinya. Tantangan bagi kami adalah saat-saat hunting lokasi. Dimana kami menyusri wilayah Bogor Raya untuk mencari lokasi yang pas dan sesuai dengan setting yang kami maksud. Dan itu tidak mudah, apalagi dengan kondisi
Bogor yang mulai menggeliat menjadi
kota Ruko, pemukiman maupun villa ini. Hanya menyisakan sedikit ruang yang kami anggap sesuai dengan skenario kami. Akhirnya pencarian kami berujung pada Setu Burung CIFOR Darmaga dan kampung Joglo Cisarua Bogor. Pertimbangan mengambil lokasi ini untuk syuting adalah permasalahan anggaran dan efektivitas waktu.
Hari pertama syuting kami hanya mampu menghabiskan 11 scene dari total 50 scene yang harus digarap. Lokasi pertama di Situ Burung. Tidak mudah syting seharian penuh, berpanas-panasan apalagi ini bulan puasa, banyak godaannya. Mencari angle kamera yang pas hingga melakukan pengarahan acting talent menjadi kerja keras kami saat itu. Take gambar lebih dari 5 kali di tiap scene-nya pada akhirnya menjadi sebuah kewajaran. Deni sebagai art director mengakui kekakuan di hari pertama syuting kali ini. Apalagi dari hasil casting sebelumnya ternyata ada beberapa talent yang tidak memiliki dasar-dasar acting sebelumnya. Terus terang puasa saya saat itu serasa tidak mendapat ridho. Bayangan es kelapa muda berkeliling liar dalam pikiran saya. Hari kedua, ketiga hingga hari kelima, lokasi syuting kami pusatkan di kampung Joglo. Disini kami meminjam sebuah rumah penduduk yang memiliki pekarangan cukup luas. Rumah itu memiliki sedikit gambaran dalam scenario kami. Sebuah rumah ditengah-tengah lading dengan background pemandangan gunung Pangrango dan hamparan kebun teh. Pemilihan rumah rencananya kami angkat sebagai setting scene interior, sedang lingkungan sekitarnya ada beberapa pilihan setting eksterior. Rumah berdinding bambo dengan lantai panggung khas sunda. Dengan property yang terbatas kami mulai ngeset sebuah kamar untuk take interior. Pada beberapa scene setingannya mungkin sama, namun pada bagian lain harus beda. Hanya ada satu kamar yang bisa kami sat saat itu. Solusinya sebagai maksimalisasi ruang, hanya tata letak dan sudut pengambilan gambar yang kami rubah. Sungguh sebuah proses yang tidak mudah bagi kami. Kami sama-sama belajar saling transformasi kemampuan. Munculnya kebersamaan sebagai semangat kerjasama sedikit memudahkan koordinasi kami. Di hari kedua dan ketiga saya mulai mengenal lebih jauh tiap-tiap personal yang terlibat dalam film in yang mana beberapa dari mereka belum saya kenal sebelumnya. Di kameraman ada Agga anak Indie Pop Bogor dan juga Irsa yang anak sinematografi IKJ. Untuk talent saya mengenal dua gadis yang lumaya untuk penyegar mata. Cici dan Odyss yang sehari-hari adalah karyawati Yogya dept store, kemudian ada cewek tomboy yang seneng dipanggil Boy. Beberapa diantaranya ada ‘bencis’ yang menyebut namanya sebagai Cinta, Sofa, dan Ayu. Kemudian anak-anak sanggar lainya.
Syuting kami saat itu benar-benar kejar tayang. Bukan apa-apa, kami harus mempercepat proses ini sebelum minggu depan. Alasan anggaran, batas waktu pemakaian alat hingga kesibukan masing-masing personal lainnya. Hasilnya meski tidak begitu maksimal (belum puas) tapi itu sudah maksimal bagi kami. Dan akhirnya hingga hari terakhir segala sesuatunya berjalan lancar. Harapan kami semoga ini bukan proses yang terakhir. Kami banyak belajar dari proses ini yang mungkin beberapa diantaranya baru kami sadari. (Anggit_AO)




Komentar Terakhir