12
Okt
06

Peristiwa di Mata Kita

 

Memaknai sejarah menurut versi kita..?? sebuah ungkapan yang bisa menjadi wacana baru dikalangan kita. Ya…kenapa tidak, beberapa waktu yang lalu dalam perjalanan kebeberapa tempat di Jogja, Jakarta, Bogor hingga Sukabumi hal semacam itu sering saya jumpai.Sejarah yang selama ini termaktum dalam kurikulum ternyata tidak begitu memuaskan. Masyarakat kita sudah cukup pintar untuk memilah seperti apa bentuk ceremony yang harus dilakukan. Meski tidak jarang kepicikan juga melanda beberapa kelompok masyarakat kita. Seperti halnya peringatan 17 Agustus itu harus dengan upacara atau peringatan kesaktian pancasila harus dengan nonton film pemberontakan G30S di malam sebelumnya. Perseberangan gagasan antara kaum muda yang memandang nasionalisme lebih universal (Tidak mengenal hegemoni sistem atau terjebak dalam sistem itu sendiri) dengan generasi pendahulu telah menimbulkan banyak kecaman-kecaman di media massa. Yang muda memandang nasionalisme itu tidak mengenal teritori wilayah, bahkan dengan nasionalisme kita harus mampu menginternasionalkan gagasan dan kerja-kerja kita. Sementara generasi yang lama banyak memandang nasionalisme sebagai pemaknaan wilayah tertentu. Bahkan kalangan elit mempersempit pemaknaan itu dengan otonomi wilayah (cauvinisme) dan pilkada yang polemiknya tidak berkesudahan. Tapi ada juga beberapa forum yang membuktikan perseberangan itu menjadi melunak.

 

    Menarik mengomentari tulisan seorang akademisi dari Jogja di kompas. Sebut saja nama beliau Budiawan. Dalam ilustrasinya beliau menggambarkan bagaimana bentuk pengejawantahan beberapa anak muda yang tergabung dalam sebuah project art “September Something”, dimana mereka memiliki bentuk gambaran tersendiri tentang adanya peristiwa di akhir September 1965. Simbol-simbol yang sebelumnya terlihat sangar seperti menjadi mainan bagi mereka. Tak jarang itu menjadi olok-olok atau bahkan gerakan anti traumatis sejarah dengan memperbarui wacana sejarah itu sendiri. Ini tidak terkait kebenaran mutlak, tetapi adalah bagaimana sebuah peristiwa kita sikapi dengan meminjam istilah populer sebagai kearifan lokal. Kenapa lokal…???karena mereka bicara atas nama kaum mereka sendiri, tidak bermaksud menyinggung atau menggarisbawahi unkapan benar dan salah. Dalam acara itu semua adalah gambaran yang untuk sementara waktu tidak memandang benar atau salah. Sebuah ilustrasi yang cukup menarik. Disini saya tidak mengenal cultural studies atau ilmu antropologi lainnya. Tapi sebuah gambaran yang saya tangkap bahwa memaknai sebuah peristiwa sebagai sejarah tidak harus ceremony yang antipati di pihak yang kalah atau memorabilia masa lalu yang kemudian berujung pada penghakiman yang belum tentu itu tepat. Artinya orang yang tidak mengenal peristiwa itu sebagaimana yang diinstruksikan adalah orang yang tidak punya masa lalu.. Hmmm…punya ataupun tidak punya masalalu bukanlah hal penting yang harus di perdebatkan. Termasuk masa lalunya siapa dan punya siapa. Orang muda tanpa masa lalu (jika kita setuju penghakiman) juga bukan monster yang buruk.

Saya jadi teringat ucapan salah satu kawan yang membuat perbedaan cara pandang budaya dengan dikotomi “tradisi” dan “modern”. Dengan berapi-api dia mengecam kaum muda sekarang yang tidak mengakomodir budaya tradisi. Mereka hanya luruh dalam budaya pop yang tidak jelas. Nah…!!!. Tapi kami (saya dan beberapa kawan yang terkecam) hanya bisa tertawa dalam hati. Pemahaman tradisi dan modern sendiri belum tuntas bentuknya seperti apa. Budaya sampai kapanpun akan tetap dan terus berkembang. Budaya modern sekarang ini kalau mau jujur juga pengembangan budaya sebelumnya yang disebut tradisi itu. Hanya beda jaman, beda pelaku dan beda media. Yang pasti antara ruh, selera dan rasa budaya itu tetap sama. Termasuk kawan tadi, usai bicara berapi-api soal budaya tradisi di ujung pidatonya toh pada akhirnya ia jujur mengungkapkan agendanya mencari talent penyanyi dangdut, mungkin itu disebutnya menggali budaya tradisi. Akan lebih arif kalau beliau tidak melakukan pengecaman apalagi beliau ini mantan gitaris band rock terkenal (Edane). Jadi pemahamannya sudah jelas. Masing-masing generasi memiliki gaya relevansi sendiri tentang suatu peristiwa. Substansi faktanya tetap sama. Masalah penafsiran itu terkait dengan ekspresi masing-masing. Apa yang dilakukan di Jogja dengan September something-nya mungkin berlaku juga di daerah lain. Seperti halnya peristiwa bencana. Sekian tahun kedepan anak-anak korban gempa Jogja pasti memiliki cara tersendiri untuk memperingatinya. Kesan traumatis atau apapun itu sudah pasti membekas. Jadi jangan salahkan mereka yang mengenangnya dengan dentuman DJ ataupun distorsi gitar. Akan berlaku dengan kendang dan gamelan jika ini di jaman kerajaan.

Memandang sejarah dengan cara sendiri memang belum bisa diterima di Indonesia secara utuh. Gerakan muda masih diangap sebelah mata. Inilah yang menjadi PR bersama. Bagaimana generasi sekarang dapat memposisikan diri di tengah-tengah norma masyarakat timur. Budaya pop, ekspresi maupun pemaknaan sebuah peristiwa yang selama ini dituding menyimpang harus kita buktikan ke-arifannya.


1 Tanggapan ke “Peristiwa di Mata Kita”


  1. Desember 7, 2008 pukul 9:16 am

    kpn man ada acara lagy…….???????
    gue dari bogor nii
    salam damai woooyy yoooooo


Tinggalkan Balasan




 

Oktober 2006
S S R K J S M
« Sep   Des »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031