Malam tampak kelam membekap Sabtu minggu terakhir di bulan April. Taburan bintang yang biasanya berpendar malam itu pergi entah kemana. Sepertinya awan hitam menandakan mendung tampak menghinggapi langit-langit Bogor hari itu.Tapi dengan keyakinan penuh bahwa gelap sepi bintang itu tidak berarti hujan, sekelompok anak muda tengah melakukan sebuah proses kreatif. Proses yang menandai bahwa mereka tumbuh dan hidup sebagai bagian dinamika Kota. Proses yang menunjukkan bahwa mereka bisa bergerak menghampiri masyarakat untuk menumpahkan kegelisahan melalui karya. Terlihat bagaimana proses kreatif itu terstruktur melalui kerjasama individu, komunitas, warga masyarakat hingga elemen lembaga pemerintahan.
Arsip untuk Mei, 2007
Geliat INDIE Di Sudut Kota..
Hujan deras yang sebelumnya mengguyur kota Bogor tidak menyurutkan langkah beberapa anak muda. Kesibukan nampak jelas menghinggapi salah satu sudut terminal Baranangsiang itu. Mereka tergabung dalam komunitas Kantong Permen dan kelompok Kerangka Hijau Bogor. Kesibukan mereka bukanlah membuat suatu gerakan, kesibukan itu lebih kepada semangat kreatifitas dan apresiasi.
Hari itu 22 April 2007 adalah Hari Bumi. Hari dimana segenap umat di dunia memperingatinya sebagai bagian refleksi manusia untuk peduli dengan Bumi. Berbagai
kegiatan dikemas untuk menginformasikan dan mengkampanyekan penghentian kerusakan Bumi ini. Sama seperti halnya kesibukan di sudut terminal Baranangsiang yang berlanjut di Tugu Kujang itu. Komunitas Kantong Permen melakukan aksi performance art sepanjang jalan Pajajaran, dari terminal menuju Tugu Kujang. Performance yang menggambarkan perjuangan “anak-anak tanah” untuk menyelamatkan Bumi. Bumi disimbolkan dengan instalasi replika bola Bumi yang penuh dengan sampah. Instalasi itu mereka arak dengan gerobak sampah seolah-olah menyindir perilaku manusia yang saling “menyampahi” Bumi ini. ‘Anak-anak tanah’ yang terus merintih dan sekuat tenaga mendorong gerobak itu.
Dansa Rasta Di Bogor…
Setelah event Tropical Nite di GOR Pajajaran beberapa waktu lalu, acara reggae kembali hadir mengusik wajah pecinta musik Bogor. Musik jenis ini tampaknya memang tengah menjadi isu hangat di kalangan komunitas muda selain jazz. Banyaknya musisi papan atas yang mulai melirik aliran ini sepertinya menjadi tanda untuk ber-reggae mania. Band indie yang mengambil genre ini juga cukup sukses diminati pasar pecinta musik tanah air. Tak salah jika akhirnya kota hujan dihujani kaum rasta (sebutan penikmat musik reggae). Seperti halnya yang terjadi di Taman Ade Irma Suryani atau lebih dikenal dengan taman Topi minggu 15 april 2007. Puluhan rastaman berdansa ria menikmati pesta musik yang bertajuk ‘Holiday Reggae and Ska’, bergabung dengan pogo-nya rudeboy (sebutan pecinta musik Ska). Ciri rambut gimbal, kaos oblong lusuh, celana jins belel, sepatu kets butut yang menjadi stereotip rastaman selama ini tampaknya kini tidak menjadi patokan lagi. Yang penting bisa menangkap soulnya reggae, tidak masalah kalau tidak gimbal. Mereka tetap asyik menikmati musik dari jamaica yang masuk ke Indonesia sejak 1970-an ini. Lanjutkan membaca ‘Dansa Rasta Di Bogor…’
Komentar Terakhir