Merasakan pengalaman menikmati sajian makanan atau mengunjungi tempat makan adalah salah satu hobby mayoritas orang kita. Makan sampai kapanpun tetap menjadi media favorit pencari suasana. Kumpul-kumpul tanpa makan-makan sepertinya kurang bergairah. Nah…bicara soal makan-makan lagi-lagi kita akan dihadapkan pada berbagai pilihan menu dan tempat makan. Kalau urusan begini biasanya unsur fanatisme menu atau tempatnya menjadi dominan. Tapi bagi mereka yang ingin merasakan petualangan baru justru mencari tempat makan baru dan menu baru pula tentunya. Di Bogor saat ini banyak bermunculan tempat makan yang menyajikan kehangatan. Tapi mungkin belum tentu bisa sehangat apa yang ditawarkan Bumbu Desa.
Sebagai tempat makan baru, Bumbu Desa memang masih tampak asing bagi kita. Namun bagi penggemar masakan sunda tempat ini adalah surganya. Restoran yang baru saja melakukan launching dengan berbagai kegiatan atraksi budaya sunda ini patut dicoba
Begitu memasuki area “Bumbu Desa” kita akan dihadapkan pada suasana dan keramahan ala kampung sunda. Dari pertama memasuki area parkir hingga tiba di meja resepsionis sapaan hangat akan segera menghampiri kita. Bahkan teriakan wilujeng sumping justru akan menyambut anda. Ingat..ini adalah teriakan, tidak sekedar sapaan biasa. Arti teriakan itu sendiri lebih bermakna sebagai sapaan akrab warga kampung dengan sesamanya. Nuansa akrab inilah yang ungin dibangun di tempat ini. Antara pengunjung dengan pramusaji-nya seperti tetangga waktu di kampung, ramah dan tidak ada batasan. Pakaian yang mereka kenakan juga unik, mengingatkan suasana persawahan yang teduh dan riuh. Ketika hasrat makan anda sudah diujung lidah, pilihan aneka menu yang ada di Bumbu Desa dijamin kian memanaskan hasrat tersebut. Bagaimana tidak, disini display menu tidak sekedar rangkaian tulisan saja. Tapi benar-benar disusun sesuai menu aslinya. Anda bisa langsung melihat bentuk dan sajian menu Bumbu Desa secara langsung. Rasa penasaran nama sebuah menu akan tuntas dengan melihat langsung.
“Di Bumbu Desa kami tidak menjual makanan, tapi menjual pengalaman”. Tutur Ardiqe, Guest Relation Officer Bumbu Desa.
Pengalaman disini adalah pengalaman menikmati makanan dengan sentuhan khas tadi. Artinya pengunjung yang datang kesini akan merasa beda dibandingkan datang ke restoran lain. Beda disini adalah dari segi pelayanan, keramahan, greeting, seragam pelayannya hingga pengalaman dari awal masuk sampai pulang. Sapaan awal masuk dan saat kita meninggalkan Bumbu Desa dijamin akan memberikan pengalaman tersendiri. Siapapun yang datang ke Bumbu Desa tidak saja terkesan dengan makanannya saja tapi dengan kenyamanannya juga. Bahkan masakan yang ditawarkan ditempat ini benar-benar masakan kampung yang jarang didapatkan di restoran lain, Selain menu sunda komplit standar ada juga menu spesial seperti tutut, tumis keciwis, ikan parai dan udang rarong. Udang rarong ini adalah sejenis udang tapi bukan udang. Rarong ini hanya bisa didapatkan di daerah Garut saja
“Di Bogor sepertinya belum ada resto seperti Bumbu Desa yang dari awal sampai akhir benar-benar sunda banget, kampung banget”.Tegas mojang yang memiliki senyum manis dan ramah ini.
Ungkapan ardiqe ini memang tidak mengada-ada, saat kita coba menikmati menunya, pandangan mata kita akan terarah pada desain interior yang minimalis, tradisional, modern. Aneka hiasan berupa foto-foto suasana kampung dan properti tradisional tampak jelas mengakrabi sisi visual kita. Jargon menjual pengalaman tadi agaknya cukup masuk akal. Di Bumbu desa unsur nuansa pengalaman tampak cukup kuat dibanding sekedar datang, pesan, makan, bayar lalu pulang. Selain suasana dan keramahan yang unik, cita rasa masakan di Bumbu Desa mendapat predikat masakan sunda no 1 Se Jawa Barat. (Ank_Z)
Wah pengen juga makan di Bumbu Desa…tp lagi ga punya duit. Ntar lain kali dah..
Waktu makan di Bumbu Desa yang di Pasir Kaliki Bandung, saya ga lihat ada tutut..( sejenis siput sawah), tapi waktu kemarin makan di bumbu Desa di Bogor… Ya ampun enak, enak banget.
Saya dan kakak2 saya jadi nostalgia waktu kita masih kecil tinggal di Bandung. Ga setiap saat kita bisa nikmati tutut, biasanya ramai kalau bulan puasa.
Wah.. nostalgia banget dech. Sekalian kita mengenalkan menu masakan sunda kepada keponakan2 saya yang ga pernah tahu dan ga pernah lihat yang namanya tutut…
Hehehe naik kereta api tut tut tut lho ko jadi nyanyi. Seharusnya, AYA SEMAH.. hehehe
`bumbu desa`……!!! wah, gue denger masakannya eunak tenannnnn. pas gue dateng ekh taunya beneran enak,murah lagi emmm……yg gawenya kayak kang kabayan tea geuning he,he,he. hatur nuhun.
seru juga sih makan di bumbu desa tapi yang dijalan Suryo(terusannya jalan senopati)ssah cari parkirnya.penh terus apalagi kalo pas lunch ato hari libur.