13
Nov
07

Dari Bogor Ke Madiun Aku Mampir Jogja Sebelum Ke Bogor Lagi

Pulang...mbahAku putuskan untuk pulang….!!!!, rangkaian kata-kata inilah yang coba kutanamkan dalam benak ini. Setelah lebaran kemarin gagal melakukan perjalanan mudik karena sakit, mungkin ini adalah saat yang tepat untuk pulang. Hal yang paling dilematis mungkin adalah meyakinkan diri untuk pulang dengan berbagai resiko. Tabungan sudah pasti akan terkuras, menggagalkan keinginan beli Notebook atau melewatkan kesempatan aktifitasku di Bogor yang sebagian orang baru dimulai (Selepas Lebaran). Tawaran ‘Project art’, tugas kampoeng Bogor, liputan event hingga pentas reggae bersama Cocktail mau tak mau harus aku pending, beberapa malah ku gagalkan. Dan 24 Oktober kemarin keputusan itu akhirnya aku pastikan. Setelah mengantongi ijin cuti, bergegas tiket KA Eksekutif Argolawu aku dapatkan. Sengaja kupilih moda transport ini karena tujuan pulangku bukan ke Jogja, tapi di daerah Maospati Jawa Timur yang terletak antara Solo dan Madiun. Sedangkan KA ini berhenti terakhir di Solo. Dari sini baru aku melanjutkan perjalanan dengan Bus. Selain itu kereta ini berangkatnya malam jam 20.00, artinya sebelum berangkat masih ada kesempatan untuk menuntaskan kewajibanku di “Kampoeng Bogor”. Tanggal 24 itu jam 15.00 aku bersama tim kampoeng Bogor masih harus presentasi dan perkenalan dengan Lanskap IPB di kampus Darmaga. Presentasinya sendiri berlangsung selama 1,5 jam. Kelar bertugas masih ada kesempatan kejar kereta Pakuan Ekspres menuju Gambir. Dan bersama Argolawu inilah aku akhirnya menikmati perjalanan pulang ke rumah orangtua kandungku sekarang tinggal. Alhamdullilah kereta ini tidak padat seperti halnya minggu-minggu lalu (musim mudik/balik), bahkan aku bisa leluasa menyamankan diri sebab seat disebelahku kosong….Hmmmmmm enjoy the trip, tidak ada yang lebih menarik dari itu, bahkan acara KA TV tidak mampu mengalihkan perhatianku (ya jelaslah…abis acaranya kebanyakan iklan…heheheh).

***

Uummppffaahh….Pagi Jogja, pukul 03.55 visual kota jogja dipagi hari langsung menyeruak untuk kali pertama setelah mata ini dibekap nikmatnya seat Argolawu. Jujur saja ada keinginan untuk turun di stasiun Tugu menghabiskan beberapa waktu disana…tapi aku tidak boleh silap..tujuan pertama harus aku wujudkan dulu, bertemu orang tua kandung yang sudah 3 kali lebaran tidak kukunjungi. Syukurlah Argolawu cuma 3 menit transit di sini, jadi kebimbanganku tidak berlarut-larut, bergerak cepat meninggalkan jogja menepis kerinduanku atas kota itu. Tapi rencanaku sesudah dari Gudang Stasiun soloMadiun aku akan mampir ke sini sebelum balik ke Bogor. 04.55 tepat, argolawu memasuki Stasiun Solo Balapan..akhirnya sejuknya udara pagi diluar kota Bogor berhasil kuhirup, sekian jam berada di gerbong kereta eksekutif meski nyaman tetap membuat penat juga hehehe…langkah kai ini pun perlahan kuayunkan meninggalkan satsiun yang masih memiliki ciri kolonial itu. Belum genap keluar stasiun sebuah panggilan membangunkan lamunanku..ternyata seorang tukang becak menawarkan jasanya..

”Becak mas..?? “. Wah kebetulan nih, iseng-iseng kutanya tarifnya

“Terminal piro kang (Ke terminal berapa kang..)..?”

“Limangewu mawon mas(Lima ribu saja mas)” Jawabnya

“Yo wis..becak e ngendi(Ya sudah becaknya mana)” ujarku tanpa menawar

“Pun ditenggo teng ngriki mawon(Sudah ditunggu disini saja)” Jelasnya kemudian.

Tak lama kemudian becak warna merah langsung menghampiri, selanjutnya membelah cerahnya pagi menuju terminal Tirtonadi..memandangi aktifitas warga yang lalu-lalang..ehmmm khas kehidupan orang jawa, tenang dan tidak ada yang terburu-buru seperti di Jakarta maupun kota sekitarnya. Tiba diterminal langsung menyusuri parkiran Bus sambil menajamkan mata membaca jurusan yang dilalui. Sekilas dari kejauhan terdengar teriakan seorang kernet. “Surabaya patas lewat Madiun..langsung berangkat”. Nah ini dia, tanpa berlama-lama kukejar lokasi bus dan kernet tadi. Benar..bus MIRA bertuliskan PATAS SOLO-SURABAYA VIA MADIUN mulai bergerak perlahan. Bergegas kumasuki bus itu dan badan ini akhirnya terhempas di kursi no 3 dari belakang. Rute kepulanganku sengaja putus-putus karena ini lebih efektif. Daerah tujuanku sebenarnya diluar lingkar kota Madiun, jadi kalau naik kereta langsung ke stasiun Madiun wilayah ini akan terlewati. Lagi pula letaknya yang ada ditengah kota, perlu beberapa kali naik angkutan untuk sampai ke tempat tujuanku. Apalagi tiba di Madiun saat pagi buta meragukanku apakah sudah ada aktifitas angkutan kota. Kereta dari Gambir yang menuju Madiun tidak ada yang berangkat malam, jadwal mereka sore semua, jadi tidak ada kesempatan naik kereta yang langsung ke Madiun seperti yang diceritakan di awal. Jika dengan rute ini dari solo aku hanya perlu naik becak ke terminal dan setelahnya naik Bus turun di depan Pabrik Gula Glodok (Bukan nama sentra elektronik jakarta lho..hehehe) lalu ojeg akan mengantarkanku ke rumah. Setiba di rumah adegan berikutnya adalah keharuan yang menyelimuti antara aku, bapakku, ibuku, dan nenekku.

***

Jalan kampungDesa Sambirembe, kecamatan Karangrejo Kabupaten Magetan…itulah nama resmi administratif kampung tempat kedua orangtua kandungku tinggal. Setelah tiga tahun lewat banyak yang sudah berubah. Jalanan kampung yang sudah di aspal, jalan plus jembatan baru yang telah terbangun serta perubahan kepemimpinan di kampung ini. Namun ada yang tidak berubah di kampung ini. Sarapan pagi dengan nasi pecel yang dipincuk dengan daun pisang serta segelas teh hangat, tetap mudah ditemui. Kebiasaan inilah yang senantiasa mengingatkanku akan kampung ini, termasuk warung kopi kelas kampung yang tetap akrab. Tempat dimana pusat informasi warga kampung yang kecepatan aksesnya melebihi balai desa maupun pengeras suara di masjid…hehehe. Sapaan warga yang mengenaliku sebagai putra bapakku tetap lekat, padahal aku tinggal di kampung ini tidak lama, hanya dari TK hingga kelas 1 SD saja, sisanya hanya sekedar berkunjung liburan…hmmm luar biasa. Udara tetap panas, kebisingan suara F 16 maupun pesawat militer lainnya juga tetap mewarnai hari-hari di kampung ini (Maklum dekat dengan pangkalan udara militer Iswayudi). Radio-radio tetap setia memutar lagu langgam jawa timuran hingga campursari ditengah-tengah irama dangdut ataupun lagu-lagunya ‘Ungu’. Sungai curam dengan rumpun bambunya hingga tanaman tebu yang tetap setia ditanam warga. Terus terang warga di kampung ini tidak banyak yang kuakrabi. Sejarah panjangku ada di Jogja, namun sayup-sayup tetap kudengar gunjingan warga tentang prestasi mereka yang punya sejarah diwilayah ini. Jika sebelumnya ada tetangga desa yang jadi ketua DPRD kemudian giliran Bupati dipegang desa sebelahnya. Kini giliran salah satu pemuda kampung ini yang menjadi pembicaraan karena prestasinya jadi Dosen di Bandung dan sekolah hingga tingkat S3 di UI Jakarta. Prestasi ini bersaing dengan Isa ‘Juki’ sinetron Para Pencari Tuhan yang juga berasal dari kampung sebelah. Sedang aku sendiri..!? hahahaha tidak ada kebanggaan yang diakui warga, lha aku ini memang bukan siapa-siapa dikampung ini. Setelah dibuai rasa kangen keadaan kampung ini, ada sedikit rasa sedih sebenarnya, suasana desa yang meng-kota membuat beberapa bagian dikampung ini hilang. Salah satunya deretan pohon asem sebelah timur kampung yang kini sudah tak tampak, dulu pohon itu menjadi favoritku saat ngambek dengan orang rumah. Memanjat hingga ke dahan yang paling tinggi agar tidak bisa ditemukan orang sembari makan asem muda, memandangi hamparan sawah dengan kumpulan burung ‘kuntul’ (bangau) dan liukan pesawat tempur yang akan mendarat. Yah…apapun yang terjadi bagaimanapun juga kampung ini tetap menjadi bagian sejarahku, tempat asal ayahku dan leluhurku. Meski menurut penuturan keluarga besar, asal-usul leluhurku sebenarnya adalah pelarian perang/pengungsi dari kerajaan Mataram (Jogja). Entahlah, yang jelas aku tetap merasa bangga memiliki darah jawa timur yang dikenal keras dan kasar bercampur darah Jogja dari ibuku. Kebanggaan yang sama ketika aku menjadi warga kota Bogor

***

Jogja…akhirnya jadi juga aku kembali ke kota ini hehehehe. Setelah puas liburan ke kampung orangtua hasrat yang muncul adalah mengunjungi kota dan wilayah yang menjadi sejarah hidup paling dominan sampai saat ini. 15 tahun aku tinggal disana. Sbtu 27 oktober sepertinya menjadi waktu yang tepat untuk melakukan perjalanan. Luar biasa…setelah 4 jam perjalanan dari kampung orangtuaku tadi, kegembiraan langsung menyeruak begitu udara kota ini menyentuh hidungku. Berawal dari bus Sumber Kencono, turun di Solo lalu melanjutkan perjalanan dengan KRD Prambanan Ekspress (PRAMEKS) hingga memutuskan turun di stasiun lempuyangan, tidak ada perasaan yang istimewa selain buru-buru tiba di Jogja. Bus yang padat tanpa AC tampak melengkapi kegerahan sepanjang perjalanan menuju Solo. Pemandangan wilayah hutan ngawi yang biasanya jadi favoritku hingga kawasan industri Palur tidak banyak menyita perhatian. Demikian juga perjalanan dengan KRD Prameks. Hmmm..kereta ini mengingatkanku pada Pakuan Ekspress di Bogor sana. Interior dan pengaturan tempat duduk penumpang tidak jauh berbeda. Yang beda mungkin Pakuan adalah kereta ac impor bekas dari Jepang, sementara Prameks non ac serta gado-gado antara mesin impor dan karoseri lokal buatan INKA Madiun. Pertimbangan turun dilempuyangan sebenarnya lebih disebabkan permintaan kawan yang akan menjemput di stasiun itu. Padahal pengennya aku turun di Tugu yang legendaris itu. Tapi ya sudah, sudah untung ada yang mau jemput. Hari pertama di Jogja aku habiskan dengan menjumpai kawan-kawan semasa aktif di pergerakan dan sisa-sisa pejuang kampus dulu. Wah tadinya pengen asyik enjoy aja jadi terlibat dalam kangen-kangenan dan diskusi ringan. Malamnya baru aku ngobrol serius dengan petinggi dan eksponen BengkelAo jogja. Terus terang kedatanganku ke Jogja memang ada sedikit muatan memperjelas tentang tawaran kembali ke Jogja. Ini terkait dengan kerja-kerja yang berbasis kesenian sebagaimana yang menjadi jargon BengkelAo selama ini. Artinya ada sebuah kegiatan, katakanlah proyek berbau sosial yang dikerjasamakan dengan lembaga non profit lokal disana. Tawaran berdasarkan integritas kesenimanan mungkin… hehehehe….dan obrolan itu terjadi disebuah tempat yang dinamakan Taman kuliner. Tempat yang biasa saja sebenarnya, sebuah kawasan relokasi korban gusuran PKL selokan mataram, kelompok ‘pengusaha’ kecil yang pernah diadvokasi kawan-kawan dulu. Hasil obrolan serius tadi hanya menghasilkan rekomendasi struktur dan tanggung jawab serta keseriusan pemahaman tentang obyek proyek tersebut…itu saja. Finalnya tetap menunggu perkembangan selanjutnya. Sebelum ke Taman Kuliner sempat kujumpai teman SMA dulu di kawasan Balerejo Timoho..Bimo namanya. Sosok yang kini menjadi pengajar, presenter dan mahasiswa S2 Bahasa Jawa UGM ini. Reuni dan ngobrol tentang kabar teman-teman lainnya menjadi materi yang menggembirakan. Mereka kini sudah banyak yang menekuni profesi masing-masing, dari cerita-cerita itu banyak fakta yang menjadi sesuatu berbeda dibanding dengan cita-cita dan kegiatan semasa SMA dulu…pokoknya tidak disangka-sangka. Dan pastinya cerita soal kabar cewek-cewek se angkatan dulu…well kali aja masih ada yang tersisa dan kualitasnya dijamin hehehehe..(Pinjam istilah kawan…Jomblo itu keren..tapi Cape). Asyik sebenarnya nostalgia dengan teman SMA ku itu..akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan untuk tetap saling kontak dan menggagas reuni angkatan lagi. Tentunya ini pasti akan ditungu-tunggu teman-teman yang lain. Hari minggunya banyak kuhabiskan di kawasan malioboro untuk belanja beberapa titipan orang. Terus terang sebenarnya aku agak malas bawa-bawa ini-itu, tapi yah gimana lagi…dari pada putus silaturahmi. Tapi ada untungnya juga, disana aku masih bisa menemui beberapa teman lama (termasuk kalua…hahahaha) dan sisa-sisa pekerja seni lainnya yang kini berjuang menuntaskan kewajiban hidupnya atas nama tanggung jawab keluarga. Banyak dari mereka yang proses berkeseniannya tersendat. Sebagian besar banting stir dan mencoba realistis untuk berdamai dengan kenyataan. Dan di malioboro ini… wajah2 baru sepertinya mendominasi, kurang tahu pasti apakah masih menjadi kantong kesenian apa tidak, waktuku tak banyak ditempat ini….jadi terbesit untuk menemui kawan-kawan seniman dulu, tapi gimana yah..dulu aku terbiasa menemui mereka pada acara-acara kesenian, entah itu teater, musik maupun bentuk-bentuk performance lainnya. Dan sabtu itu tidak kutemui poster atau informasi yang memberi tahukan adanya agenda kesenian. Okeylah kalau begitu suatu saat akan aku agendakan perjalanan mengunjungi kawan-kawan seniman…termasuk master pantomime Jemek yang pernah mengundangku via email. Hari minggu itu sempat juga aku temui sosok yang selama ini hanya kukenal lewat dunia maya. Orang itu banyak konsultasi tentang kehidupan selain obrolan kegiatan masing-masing…dan setelah sms an akhirnya kita ketemuan juga di Jl Kaliurang, sebuah pondok Ikan Bakar menjadi pilihan tempat untuk ketemuan. Kami ngobrol asyik, ternyata Nia (demikian nama sosok itu) adalah orang ‘exact’ yang menghabiskan waktu di lab farmasi tempatnya bekerja di Solo, sebelumnya pernah ke Bogor, Sukabumi dan semarang. Keluhan tentang sosialisasi lingkungan kerap menjadi bahan konsultasinya lewat sms. Hahhh memangnya apa sih yang bisa aku advice kan…??? hehehehehehe. Minggu sore sempat aku saksikan sebuah parade atau lebih tepatnya karnaval dalam rangka hari jadi kota Jogja, kehadiran karnaval ini tentu saja membangkitkan ingatan dan hasart ‘performance art’ ataupun ‘Happening art’ dijalan-jalan dulu. Apalagi rute tersebut melewati rute keramat..JL Malioboro menuju alun-alun utara Jogja, namun aku hanya bisa menyaksikan iring-iringan karnaval itu hanya dari gerbang alun-alun utara saja. Space yang ada hanya disitu..tempat lainnya sudah padat penduduk yang ingin menyaksikan karnaval juga. Iring-iringan mobil hias tiap instansi maupun kelompok seni masyarakat menjadi yang dinanti-nanti para penonton. Unik dan aneh-aneh, entah berapa seniman yang dilibatkan di acara itu. Yang pasti ada teman kuliah yang jadi panitia karnaval membantuku masuk ke barikade Pramuka dan keamanan agar leluasa mengambil gambar (sayangnya di kemudian hari setiba di Bogor beberapa gambar sempat kehapus karena kesalahan teknis). Malam harinya ada undangan mendadak untuk hadir dalam acara HUT organisasi ekstra kampus yang sempat menjadi ruang pendidikanku semasa mahasiswa. Dan senin malam sebelum meninggalkan Jogja dengan KA Gajayana kembali kukunjungi kampus UJB untuk sekedar nostalgia dengan kawan-kawan Mapala Janagiri dan sanggar TSM (Teater Sekolah Merah) tentunya.

***

Tiba kembali ke Jakarta…entah kenapa kedatangan kali ini tidak menorehkan perasaan apa-apa. Hanya kehambaran dan yahh….semacam kehampaan. Bahkan sepanjang perjalanan aku hanya tidur dan asyik sms-an minta maaf dengan kawan dan teman lainnya di Jogja yang ‘marah’ karena tidak ku kunjungi. Apakah rutinitas di Jakarta atau di Bogor sudah tidak menarik lagi..?? tidak juga, mungkin ini hanya semacam sindrom setelah beberapa hari lepas dari beban pikiran sebagaimana menikmati liburan. Dan sesudahnya deretan aktivitas kerja rutin serta job-job lain yang kejar deadline sudah menanti. Hhhmmmpppfff…pemandangan hutan beton, gedung-gedung yang kontras dengan kawasan kumuhnya tidak menarik, mengurangi selera untuk menolehkan pandangan ke jendela kereta. Tapi…bagaimanapun juga kota ini telah berbuat baik padaku. Tanpa Jakarta dengan hiruk-pikuknya mungkin aku tidak akan mengenal sejuknya Bogor…hehehehehe. (Ank_z)


3 Tanggapan ke “Dari Bogor Ke Madiun Aku Mampir Jogja Sebelum Ke Bogor Lagi”


  1. 1 cadel
    Desember 31, 2007 pukul 7:40 am

    aku lupa siapa kamu. tapi aku kenal banget.
    kita sering ketemu di posko mapala janagiri jogja

  2. 2 sudro
    Januari 24, 2008 pukul 5:54 am

    hi…piye kabare, biyen cilikanmu irunge mbeler terus, saiki pinter tenan…. (gambarmu koyok bos wae), tapi ojo lali yo karo mbrembe…!, isih sering nengok mbahmu ra, mbah kus….? piye sido rabi ambek wong jogya yo….? undangane ojo lali lho… salam kanggo bapakmu….(pak paryadi)…mbok motore kanggo bapakmu wae, ben bapakmu rodo gagah…remember with your father struggle……good luck

  3. 3 Enar
    April 29, 2009 pukul 7:58 am

    Maspatine ndi kang?
    Aku daerah mBarat.

    Salam kenal yo


Tinggalkan Balasan




 

November 2007
S S R K J S M
« Okt   Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930