Ini adalah catatan beberapa waktu lalu saat untuk pertama kalinya aku terlempar dari Revo Merah Kesayangan, bulan desember lalu…hehehehehe
Rabu itu sepertinya bukan hari yang baik buatku. Seharian beraktifitas ditemani hujan yang kadang turun kadang enggak. Hujan khas yang mewarnai keseharian di Bogor. Menjelang maghrib aku dikejutkan sms dari seorang kawan. Inti persoalannya bukan pada isi dari sms tersebut, tapi informasi yang datangnya tidak tepat. Isi sms itu perihal kepastian tampilnya Cocktail di “De Coco Bar & Resto” Pelabuhan Ratu Sabtu besok. Dan Rabu malam seluruh crew harus berkumpul buat sosialisasi list lagu yang akan kita bawakan. Ufff…ini dia awal hari buruk itu.
Jauh sebelum datang sms tadi, sebuah agenda besar telah menanti di Rabu malam itu. Rapat konsolidasi tim Redaksi untuk media yang akan di terbitkan Februari nanti. Ini juga terkait dengan kegiatan komunitas kampoeng Bogor, lembaga komunitas yang selama ini aku geluti. Berkecamuk perasaan gelisah dalam benak ini, dua-duanya merupakan agenda penting yang harus kuhadiri. Di media nanti aku berperan sebagai pemimpin redaksi, sementara di Cocktail aku harus sedikit profesional karena ‘fee’ telah terbayar. Lagi pula aku punya komitmen untuk siap di event Pelabuhan Ratu kali ini. Selama ini aku terlalu sibuk hingga jarang menemani crew band lain aransemen lagu. Hari ini sepertinya komitmen itu dipertanyakan…hehehe
Kembali pada persoalan pilihan yang membingungkan tadi, negosiasi terkait templete waktu terpaksa aku lakukan. Rapat redasi tidak mungkin ditunda, jadi meeting band-lah yang aku geser jadi lebih malam. Jelang maghrib hujan lebat membasahi kawasan Kedunghalang (posisi terakhirku), makin gelisah saja aku mendapati kondisi ini. Rain coat dibawa teman, menembus hujan juga bukan hal mudah karena ada benda yang harus kuamankan dari air nantinya. Sementara teman redaksi lainnya sudah memastikan untuk segera datang ke lokasi rapat. Dengan berbagai pertimbangan (sembari memperhatikan kondisi hujan) aku mantabkan untuk menunggu hingga 15 menit lagi. Sebagai persiapan aku coba meminimalisir tingkat kebasahan berbagai barang mulai dari perangkat elektronik, pakaian ganti hingga tas dengan mengepaknya sedemikian rupa. 15 menit itupun akhirnya berlalu, sesuai perkiraan hujan agak ramah kali ini. Meski belum reda tapi tidak selebat tadi. Maka keputusan segera aku ambil, akhirnya menembus hujan benar-benar kulakukan bersama “Bonny” Honda Revo merah kesayangan yang selalu
jadi andalan. Bonny langsung aku pacu, bukan apa-apa, selain kejar waktu hal ini ternyata cukup efektif memperkecil kebasahan tas di punggungku. Dan sepertinya bukan perkara yang mudah bisa lolos dari kemacetan simpang pomad kedunghalang ini. Melihat gelagat antrian sepanjang jalan itu, aku memutuskan lewat belakang. Tujuanku adalah sekretariat komunitas KALAM di Bantarjati. Jalan yang aku ambil melintasi Tanah Baru (via Kampus AKA) menuju Jl Pandu Raya.
Awal perjalanan cukup aman…semua nampak lancar. Bonny cukup diandalkan untuk berkelit zig-zag di jalanan yang buruk. Aspal berlobang dan angkot yang tiba-tba bermanuver menjadi tantangan tersendiri. Namun perjalanan awal itu rupanya hanya sekedar intro saja. Lepas dari kampus AKA pandangan mata ini sedikit terganggu rintikan air hujan dan sorot lampu sebuah mobil. Gila…sorot lampu itu tampak menyilaukan sekali. Terlihat pula seorang pengendara meminggirkan motor untuk menghindar dari mobil itu. Rupanya selain lampu yang menyorot silau tadi (Pakai lampu jauh), mobil itu juga berjalan agak ke tengah mengambil jalur arah sebaliknya. Arrkkkhhh..geram juga
aku mendapati ‘arogansi’ mobil tersebut. Sedikit emosi akupun coba melawannya dengan menyorotkan lampu jauh juga…waahhhh rupanya perlawanan itu tidak efektif, lampu Bonny sepertinya kalah jauh. Lalu jalur coba kurebut kembali, sedikit menantang aku berjalan ke tengah jalur. Posisi kami kini saling berhadapan. Mobil itu tetap tidak mau menurunkan tensi arogansinya…sial sepertinya mobil itu mengajak adu nyali, ia tetap tidak mau minggir. Ketika jarak sudah semakin dekat kesadaranku menghentak untuk menghentikan kekonyolan itu…ya aku pikir ini konyol juga kalau sampai terjadi tabrakan. Sudah pasti aku akan berada dipihak yang paling merugi. Mobil yang kemudian kukenali jenis Kijang Kapsul merah itu jelas-jelas bukan tandingan Bonny.. Meminjam istilah gurauan khas orang Jogja sing waras ngalah, akupun membanting laju Bonny agak kekiri untuk menghindari mobil itu. Dan itupun ternyata memiliki resiko beda tipis dengan
terjadinya tabrakan. Saat Bonny kubanting kekiri, disisi kiri jalan petaka lain sudah menunggu. Sebuah lobang besar menganga dan memanjang agak ke tengah jalur terpaksa aku hajar. Akibatnya bersama Bonny aku terpelanting terbang lalu menghempas ke aspal. Sejenak kegelapan melanda kesadaranku. Saat terhempas aku sedikit shock sepertinya. Begitu pulih ternyata aku sudah telungkup di aspal dengan wajah menghadap aspal jalan. Sementara Bonny entah bagaimana sebagian bodynya ada diatas tubuhku. Beruntung saat itu aku menggunakan Helm half face berkaca depan. Helm yang terhitung sebagai helm standar itu menyelamatkanku dari gerusan aspal. Saat jatuh posisi wajah menghadap ke bawah, karena ada kaca maka wajahku terhindar kontak langsung dengan aspal.
Beberapa warga langsung menolongku dan meminggirkan Bonny. Saat bangkit ternyata aku masih bisa berjalan normal. Dua orang warga yang bermaksud memapahku juga kaget, mungkin dikiranya kondisiku parah. Padahal Cuma bibir atas sedikit sobek, lengan lecet dan jempol kaki yang sedikit bergeser. Selebihnya aman. Aku bersyukur dan berterimakasih pada beberapa warga yang menolongku tadi. Segera ku cek kondisi Bonny…luar biasa, sekali lagi aku berucap syukur. Bonny tidak mengalami banyak masalah. Hanya spion pecah, knalpot lecet, footstep bengkok dan stang sedikit meleng. Sisanya kondisi bonny masih layak dikendarai. Bahkan Bodynya pun tidak mengalami kerusakan. Saat itu awalnya aku menyalahkan mobil Kijang tadi, meski ia punya andil atas kejatuhanku tadi bukan itu titik persoalannya. Setelah aku pikir-pikir tak ada gunanya juga menyalahkan sesuatu, toh aku sendiri yang kurang waspada akan kondisi jalan. Hmmmm…sepertinya aku mengalami hal buruk secara langsung akibat kondisi buruk jalan umum di Bogor. Bergelombang dan berlobang disana-sini. Dari warga sekitar kuketahui ternyata sudah banyak korban berjatuhan akibat lobang itu, dan hal itu ternyata sudah sejak lama. Akhhhh….lagi-lagi jalan rusak tak terurus. Tadinya kegeraman hanya untuk mobil kijang merah itu, kini kegeraman bertambah pada dinas terkait yang seharusnya mengurusi perawatan jalan. Benar-benar payah, mengumpatpun sepertinya tidak berguna…harus ada yang bergerak. Gara-gara insiden itu rapat redaksi sedikit tertunda, yang ada aku minta tolong seorang kawan untuk ‘membetulkan’ jempolku tadi. Urusan Cocktail…??? aku laporkan kejadian yang sesungguhnya dan merekapun bisa memahami, dan untuk itu aku ada dispensasi agar langsung ke studio latihan saja besoknya….syukurlah…hehehehe. (Ank_z)
oke,,
pny 2 bonny????
ato “bonny sang soang”..
adlh “bonny” ini???
betewe,
lemayan naas
kacian y masssssssssss…….
nekat siy!!!1
enak ga?????
anggep aja pengalaman yang amat sangat berharga sekali…..( pleonasme!!!!….)
hwhahahaha…….
salam bwat bonny y…semoga cepet sembuh!!!!hehehe…….