Memahami Bogor akhir-akhir ini mungkin kita akan sedikit mengernyitkan dahi. Bogor yang adem ini nampak kian tegas dengan hujannya yang menjadi ciri kota ini. Hujan yang makin rajin menyambangi para penghuninya. Hujan yang mulai tak kenal waktu, baik pagi, siang, malam sampai kembali ke pagi lagi. Suasana itu kian mendukung kesejukan yang mengarah pada dingin di kota ini. Namun hujan dan dingin itu tampaknya akan segera menjadi hangat. Kehangatan yang muncul dan telah menjadi tradisi turun-temurun sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu. Kehangatan ini mulai nampak dengan dominannya warna merah dan pernak-pernik Tionghoa. Tak salah lagi kehangatan ini memang didorong dengan adanya perayaan Imlek dan Cap Go Meh yang akan meramaikannya pada 15 hari setelah Imlek tersebut.
Cap Go Meh atau yang nama resminya adalah Goan Siau merupakan puncak dari rangkaian kegiatan menyambut tahun baru Imlek. Puncak kegiatan ini akan diwarnai dengan tradisi ritual dan atraksi hiburan yang dipersembahkan untuk warga sekitar. Ritual yang merupakan inti dari perayaan Cap Go Meh adalah upacara mengusung Dewa-Dewi utama pelindung masyarakat yang dalam masyarakat kebanyakan dikenal sebagai gotong Toapehkong. Ritual ini penting karena Dewa-Dewi pelindung masyarakat diusung keluar kelenteng untuk menginspeksi masyarakatnya guna memberi berkah serta menyingkirkan segala marabahaya yang mungkin mengancam kesejateraan masyarakat akibat ulah para hantu jejadian. Jadi diusungnya Para Dewa-Dewi dengan segala kebesaran bukanlah hura-hura, tetapi mengandung makna spiritual yang diyakini besar manfaatnya bagi seluruh masyarakat. Untuk itulah kegiatan ini dari tahun ketahun selalu terlihat arak-arakan dan pawai Dewa-Dewi di sepanjang jalan Suryakencana Bogor. Arak-arakan ini biasanya juga melibatkan Langliong (Tari Liong/Naga). Keberadaan Langliong ini dan Langsai (Tari Barongsai/Singa) memiliki makna spiritual mendatangkan keberuntungan dan menyingkirkan ke-naas-an.
Dan yang unik perayaan Cap Go Meh di Bogor selalu diadakan pada malam hari. Inilah sisi unik yang membedakan dengan kegiatan perayaan sejenis di tempat lain. Selain itu masih ada lentera terpanjang dalam bentuk seekor Liong sepanjang 50 meter. Tampilnya lentera ini juga akan menambah keunikan perayaan festival Cap Go Meh 2008 ini. Liong tersebut merupakan hadiah dari warga Tionghoa perantauan yang turut merasa memiliki dan peduli akan Bogor sebagai kota tercintanya.
“Cap Go Meh di Bogor tidak semata pestanya orang orang Tionghoa di Bogor, tapi seluruh warga Bogor”. Papar Guntur, panitia Festival
Semangat multikultural yang dipaparkan Guntur tercermin dalam pelibatan kesenian lain yang akan ditampilkan nantinya. Untuk kesenian yang terlibat dalam arak-arakan nantinya dipastikan akan beragam. Berbagai kesenian daerah akan turut berpartisipasi dengan harapan kebersamaan antar etnis dan lintas agama akan terjaga. Selama ini hubungan tersebut sudah terjaga. Dengan hadirnya moment Cap Go Meh ini maka hubungan tersebut makin erat dan terjaga. Harapan kedepannya semoga semangat kebersamaan ini tetap hidup dalam benak dan sanubari masyarakat Bogor.
Beragam Kegiatan Sebagai Pendukung
Harapan itu kian mengkristal jika kita menilik berbagai kegiatan yang akan dan sudah dilakukan panitia Cap Go Meh 2008 ini. Mengambil tema Bogor Street Fest , berbagai rangkaian acara dalam rangka meramaikan dan mensosialisasikan event Cap Go Meh akan digelar. Sebelumnya pada tanggal 27 Januari 2008 kemarin digelar Seminar Budaya Tionghoa Di Bogor. Seminar yang diadakan di Galuh Meeting Room Hotel Salak the Heritage ini menghadirkan pembicara yang berkompeten dibidangnya. Budayawan, sosiolog, sinolog dan arsitek dihadirkan untuk mencermati budaya Tionghoa yang ada di kota Bogor sebagai bagian dari budaya dan kebanggaan masyarakat kota ini. David Kwa(pemerhati budaya tionghoa), Tung Ju Lan (LIPI), Setiadi Sopandi (MAAN) dan Ibu Wati (Kepala Istana Bogor) hadir untuk menyampaikan beberapa pandangannya. Tak ketinggalan sempat dilakukan launching Heritage Map Kota Bogor oleh komunitas Kampoeng Bogor, sebuah komunitas pecinta sejarah perkembangan kota Bogor yang juga terlibat di kepanitiaan Cap Go Meh 2008 ini. Kemudian kurun waktu dari tanggal 27 Januari hingga 22 Februari 2008 diadakan pula pameran foto Heritage bertajuk Kampung Tionghoa Bogor dan Cap Go Meh Tempo Doeloe . Dalam pameran ini dapat kita saksikan kampung Tionghoa Bogor tempo dulu, sebuah masa yang masih memiliki suasana khas dan unik. Nampak pula dokumentasi kegiatan perayaan Cap Gomeh tahun 1900 dan masa-masa sekitarnya.
Kemudian yang baru saja usai dilakukan adalah Pameran Batik Obin dan Kebaya Peranakan dari 2 Februari hingga 10 Februari 2008 di lobby Botani Square. Pameran ini cukup mendapat respon dari masyarakat. Sebagai rangkaian pre event Cap Go Meh 2008 (jatuh pada tanggal 21 Februari) pada 16 dan 17 Februari diadakan Gelar Budaya dan Pameran Kerajinan. Kegiatan ini dipusatkan di atrium Botani square dengan menampilkan berbagai pengrajin yang langka dan khas di Bogor serta berbagai atraksi kesenian yang menampilkan perpaduan antara seni tradisi sunda dan Tionghoa Bogor. Puncaknya nanti adalah Prosesi Arak-arakan Cap Go Meh pada 21 Februari 2008. prosesi yang diikuti berbagai atraksi kesenian mulai dari seni sunda seren tahun, tanjidor, sisingaan, jaipongan dan lain-lainnya hingga liong panjang dan barongsai kilin yang sudah langka. Dalam arak-arakan ini akan tampil pula Dewa-Dewi Vihara Dhanagun yang dibawa dengan Joli (tandu Dewa) untuk menginspeksi dan memberi berkah masyarakatnya. Rute arak-arakan dimulai dari Vihara Dhanagun-Jalan surya Kencana-Jalan Siliwangi-Jalan Suryakencana-kembali ke Vihara Dhanagun. Bagi yang memiliki putra-putri berbakat dalam seni menggambar, dapat mengikuti pasca event Cap Go Meh 2008 berupa Lomba Gambar Anak-Anak.
Seluruh rangkaian kegiatan tersebut semata-mata untuk mempertegas bahwa perayaan Cap Go Meh ini lebih dimaksudkan sebagai kegiatan bersama. Artinya masyarakat Bogor secara umum (tidak terbatas pada etnis tertentu saja) dapat menikmati meriahnya tradisi Cap Go Meh ini. Perayaan ini dapat dianalogikan sebagai hadiah bagi seluruh warga Bogor.(Ank_Z)
0 Tanggapan ke “Menuju Cap Go Meh 2008..Perayaan Untuk Semua Warga”