Bogor cuaca seharian itu mendung pekat. Sesekali diselingi hujan yang nampak rajin menyirami tanah Pajajaran. Udara yang terhembus pun cukup dingin menyentuh kulit, membuat orang malas untuk menanggalkan jaket/baju hangat. Kondisi seperti ini sebenarnya cukup wajar terjadi di kota ini. Sebuah kondisi yang menjadi penciri sekaligus identitas local yang cukup dikenal orang luar daerah. Karena wajar, bagi sebagian warga hal itu justru dianggap berkah. Malahan kondisi mendung dan hujan tadi justru menjadi penyemangat bagi mereka yang hari itu akan melaksanakan pagelaran besar yang terjadi sekali dalam setahun. Ya agenda budaya Cap Go Meh 2008 Bogor Street Fest.
Cap Go Meh 2008 atau dalam tahun china tertulis 2559 jatuh pada hari kamis 21 Februari 2008. Tepatnya 15 hari setelah Imlek. Cap Go Meh merupakan puncak perayaan atau rangkaian terakhir perayaan Imlek. Sehingga tak heran jika banyak orang yang rela meluangkan waktu untuk terlibat dalam keriuhan Cap Go Meh ini. Hal ini dapat dilihat bagaimana ribuan warga menyemut dan memadati jalan Suryakencana yang menjadi pusat kegiatan perayaan. Sejak pukul 14.30 warga mulai berjajar di sepanjang jalan yang sarat nilai histories ini, padahal acara Cap Go Meh berupa arak-arakan dewa-dewi yang diangkut dengan Joli (tandu dewa) dimulai pukul 17.00. Meski untuk prosesinya sendiri
sudah dimulai sejak pukul 07.00 bahkan beberapa hari sebelumnya. Sedari pagi masyarakat sudah mulai memadati Vihara Dhanagun atau orang Bogor biasa menyebutnya klenteng Hok Tek Bio, untuk bersembahyang dan menyaksikan prosessi naiknya dewa ke dalam Joli. Ditengah helaan asap hio yang memenuhi seluruh ruangan dan area klenteng, turut pula hadir joli-joli tamu yang akan meramaikan perayaan Cap Go Meh Tahun ini. Peristiwa yang sarat muatan tradisi ini cukup menarik minat warga, terlihat beberapa orang nampak mencari tempat yang lebih tinggi agar dapat menyaksikan prosesi ini lebih puas.
Tepat pukul 16.00 jalur yang akan dijadikan rute nampak sudah diamankan dengan penutupan jalan dan sweeping area untuk melancarkan prosesi arak-arakan nanti. Diantara panitia dari Vihara nampak juga panitia pelibatan masyarakat setempat seperti Kampoeng Bogor, Ormas2, dan kelompok-kelompok lain yang peduli dengan tradisi warisan daerahnya. Rute arak-arakan mengambil jalan disepanjang Suryakencana dimulai dari Vihara Dhanagun (Hok Tek Bio) hingga ke jalan Siliwangi simpang tiga batutulis atau depan Vihara Buddhasena. Arak-arakan patung perwujudan Dewa ini diiringi Barongsai
dan Liong. Ada sekitar 30 grup barong liong dari Bogor dan partisipasi barong liong tamu. Dengan menempuh jarak sekitar 5 sampai 6 kilometer arak-arakan nampak menjadi pusat perhatian warga yang sudah menyemut dan makin menyemut saja. Diawali dengan meliuknya liong pengawal turun dilanjutkan Payung Dewa dan Tengpay tanda kebesaran Dewa-Dewi mulai diarak. Kemudian nampak joli pengawal, joli tuan rumah, barongsai dan liong hingga kesenian khas Bogor yang nampak apik berkolaborasi. Tak ketinggalan Liong lentera sepanjang 50 meter. Liong ini nampak berbeda, selain panjang liong tersebut ditengahnya dipasangi lampu sehingga lebih terlihat indah saat melakukan gerakan malam hari.
Joli abu terlihat muncul diawal iring-iringan bariasan joli dan digotong oleh empat orang pria, kemudian Joli Houw Ciong Kun disusul Joli Kwan Im Po Sat dan Joli Kwan kong. Setelah barisan Joli tersebut, muncul Payung Dewa tanda kebesaran Hok Tek Ceng Sai, setelahnya barisan panitia pembawa Hio dan Joli Hok Tek Sin yang dikawal Kie Lin (kendaraan dewa) dari PGB Bangau Putih. Kemudian disusul oleh Joli Pan Kho, Dewa yang ada di Vihara Pulo Geulis. Lalu setelah barongsai Sam Si Roda Kencana Joli Tamu pun mulai terlihat diarak. Dibelakangnya warga yang memadati sepanjang janlan Suryakencana dibuat kagum dengan munculnya Liong lentera panjang yang nampak indah dan atraktif meliuk-liuk dalam keremangan malam. Dan itu tidak berhenti disitu saja, arak-arakan dilanjutkan dengan pergerakan dan atraksi Barong liong dari PLBB dan grup dari luar Bogor. Menurut informasi total barong liong yang terlibat ada sekitar 70 ekor.
Kegiatan cap Go Meh tahun ini sangat terasa kemeriahannya, walaupun hujan deras sempat mengguyur untuk beberapa saat hal itu tidak menyurutkan minat warga mengikuti jalannya prosesei sampai selesai. Semua warga yang terlibat, baik penonton maupun panitia partisipasi dan panitia inti tampak larut dalam kegembiraan. Seluruh warga Bogor berbaur menjadi satu tanpa melihat latar belakang etnis dan agama (sudah bukan jamannya lagi berpikiran tentang perbedaan). Tak salah jika perayaan Cap Go Meh tahun ini disebut sebagai festival Budaya Pemersatu Warga Bogor. (Ank_z)
minta ijin buat copy foto2 di blog niy buat tambahan bahan TA, ntar di cantum’in koq sumbernya.boleh gak?
thanks b4….