Deavies Sanggar Matahari…nama komunitas itu aku dengar sekitar 3 tahun yang lalu. 3 tahun mengawali peradaban baru ku di kota Bogor. Saat itu masa pencarian identitas ruang berkesenian masih kabur, kemudian berkenalanlah aku dengan mereka. Meski terhitung lambat mengenali sepak terjang mereka di negeri ini, tetap saja manfaat untuk sekedar rendah hati membuatku bangga dekat dengan mereka. Kesahajaan dan keterbukaanlah yang menyapaku saat itu. Mereka memang tidak berkedudukan di Bogor tapi inspirator sekaligus penggagas Sanggar Matahari tinggal menetap di kampung Joglo Cisarua Bogor. Dan kini 24 Mei 2008, atau setelah 3 tahun berkenalan aku menyaksikan pertunjukan mereka untuk pertama kalinya. Sebelumnya mereka pernah tampil di Bogor 8 November 2007 silam. Namun karena berbagai kesibukan yang cukup menyibukan aku urung menyaksikan mereka saat itu. Kini Kelompok keseniaan yang mengkhususkan diri pada eksplorasi musikalisasi puisi ini mengadakan konser di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki(GBB TIM) Jakarta, dan aku
secara khusus menyempatkan diri hadir di antara mereka sebagai penonton, ya…aku hadir sebagai penonton. Meski sebuah undangan via SMS sempat mampir ke HP ku. Tapi tetap saja keputusan beli tiket adalah keputusan bijak, keputusan konsekuen sambil berharap kelak ada yang membeli tiket pertunjukanku…hahahahahahaha. Tidak-tidak bukan karena itu ini hanya sebagai bentuk komitmen ku dalam menghargai sebuah karya pertunjukan. Cukup sering fasilitas nonton gratis atas nama ‘media’ menghampiriku. Kali ini benar2 ingin datang sebagai penonton sekaligus pembelajar. Bukankanh penonton itu adalah penikmat yang jujur ?..dan untuk itu aku memilih menebus tiket pertunjukan seharga Rp 30.000
Konser Deavies Sanggar Matahari & Komunitas Musikalisasi Puisi Indonesia…demikian tajuk utama pertunjukan mereka malam itu. Selain Deavies, tampil juga kelompok musikalisasi Puisi dari berbagai wilayah di Indonesia yang tergabung dalam KOMPI (Komunitas Musikalisasi Puisi). Penampilan dari KOMPI Sulawesi Tenggara, KOMPI Jambi, KOMPI Jawa Barat, dan KOMPI Manado seolah menandai bahwa konser malam itu adalah konser besar. Meski nuansa kesederhanaan tetap menjadi setting pertunjukan yang setia. Gaya pertunjukan yang tidak kaku segera mereka gulirkan. Dipandu Erwin ‘All Right’ yang juga menyelipkan humor-humor segar, suasana selama pertunjukan pun tetap fokus. Begitu layar dibuka sosok para personil Deavies Sanggar Matahari langsung mengemuka. Dedi, Ane, Devie, Deni, Eii dan Irma ada diposisi masing-masing. Setting panggung tampak sederhana namun cukup membius. Apalagi lantunan kata-kata yang mereka lagukan tidak sekedar kata-kata biasa, melainkan sebuah syair yang indah. Tidak ada penonton satupun yang tidak terbius, perkawinan musik dan puisi yang mereka mainkan cukup menyejukan dan memunculkan perenungan, tidak sekedar menghibur. Dalam 2 sesi pertunjukannya mereka memilih Diponegoro-nya Chairil Anwar sebagai repertoar pembuka. Kemudian berturut-turut alias m
edley Seperti Hutan Yang Terbakar (Kemala), Gergaji (Slamet Sukirnanto), Salju (Wing Karjo), Nawang Wulang (Subagyo Sastrowardoyo), Gadis Peminta-minta (Toto Sudarto Bahtiar), Pada Mu Jua (Amir Hamzah), Refleksi Jarak Dan Waktu (Ahmadun Yosi Herfanda) dan Salam Damai (Fikar W Eda). H. Fredie Arsi sang Inisiator sekaligus ayah para personel Deavies Sanggar Matahari sempat didaulat ke panggung untuk melagukan sebuah Puisi. Kemudian sesi ke 2 pun mengalir melantunkan karya Sanggar Matahari seperti Problema II (H Fredie Arsi), Nyanyian Rindu (Dediesputra Siregar), Ruh (u) Krak (Dediesputra Siregar), Mama (H Fredie Arsi) dan juga Musik Alam (H Fredie Arsi).
Sejak 1992 kelompok ini telah eksis untuk memasyarakatkan Musikalisasi Puisi dengan Rangkaian tour ke berbagai daerah di Indonesia mulai desa pelosok hingga Kota besar. Bahkan ke Kuala Lumpur Malaysia dalam Pengucapan Puisi Dunia-9 tahun 2002 lalu. Setelah tahun 2003 lalu merilis album ‘Nyanyian Rindu’ pada 2007 kemarin mereka meluncurkan CD album Kompilasi “Ruh (U) Krak”. Album perkawinan musik dengan Puisi yang ditolak MTV karena tidak ada kategori/genre nya. Sepintas aku tergerak mengutip rilisan kata-kata yang ada dibuku panduan pertunjukan …Kami menyusuri jalan sunyi ini, ketika kata menyentuh makna, dari ucapan dan penerimaan salam, keheningan adalah kata-kata…Berkomunikasi dalam keluarga, berprestasi dalam ajang Musikalisasi Puisi, enam bersaudara kandung menyusur jalan sunyi dari kampung ke kampung, kota ke kota di Indonesia sampai pengucapan Puisi Dunia IX Kuala Lumpur….Jangan dulu bicara sekali berarti sesudah itu mati…Kebersamaan Kita adalah membuka ruang untuk berkarya. Dan malam itu selepas pertunjukan aku-pun pulang ke Bogor dalam keheningan dan perenungan. (Ank_z)
ninggalkan jejak ahhh…..
alhamdulillah bisa.mg2 gak dianggep spam… Maksih Bang dah mampir blog saya. anywae.. kapan2 saya mampir lagi…
Makasih ya atas tulisannya…
Matahari…
haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaai
ada sitenya gak yah Sanggar Mataharinya??
Wanna know.
Sanggar matahari…kpn lg akan beraksi..rindu aku dengar musikalisasi. Sejak galang dana unt aceh di TIM & Ancol dulu. Saya dulu guru SMK Hang Tuah I Jakarta yg sll mensosialisasikan & mengenalkan MUsikalisasi karyamu unt anak didikku. Tapi skrg sy tugas di Mabes TNI AL Cilanmgkap tp rasa cinta sy pd sastra terutama musikalisasimu tk luntur…Tolong jika ada konser lagi mba Irma & Mba Devie dkk berkenan memberitahuku ke 08128582698. Tks banyak sebelumnya.
Sanggar matahari…kpn lg akan beraksi..rindu aku dengar musikalisasi. Sejak galang dana unt aceh di TIM & Ancol dulu. Saya dulu guru SMK Hang Tuah I Jakarta yg sll mensosialisasikan & mengenalkan MUsikalisasi karyamu unt anak didikku. Tapi skrg sy tugas di Mabes TNI AL Cilangkap tp rasa cinta sy pd sastra terutama musikalisasimu tak luntur…Tolong jika ada konser lagi mba Irma & Mba Devie dkk berkenan memberitahuku ke 08128582698. Tks banyak sebelumnya.