Sungguh luar biasa beban yang dirasakan rakyat yang menghuni bangsa ini. Sepertinya tekanan demi tekanan tak henti-hentinya menerpa negeri yang katanya ‘gemah ripah loh jinawi’ . Kita menjadi miskin dinegeri yang kaya ini. Tekanan politik, tekanan ekonomi hingga tekanan moral tampak akrab menjerat kita.Tanpa bermaksud bicara sok aksi tentang politik, akhir-akhir ini rakyat disuguhkan geliat intrik partai, intrik lembaga yudikatif dan eksekutif hingga intrik moral punggawanya Belum reda kepanikan langkanya minyak tanah akibat konversi gas pemerintah, kini cerita kenaikan BBM untuk yang kesekian kali mulai menghantui kehidupan masyarakat kita. Efek samping yang dirasakan masyarakat kelas bawah sangat terasa. Rakyat tidak tenang..sensitif..cenderung emosi di sesamanya.
Seperti halnya cerita Rahmat (bukan nama sebenarnya) pemuda pekerja serabutan yang tinggal di Kawasan Kebon Pedes Tanah Sareal Kota Bogor. Emosinya memuncak kepada sopir angkot yang menaikkan tarif diluar kebiasaannya. Rahmat mencoba berontak, tapi sang sopir pun juga punya alasan untuk menaikkan tarif jasanya sebagai antisipasi kenaikan BBM. Singkat cerita mereka berkelahi yang kemudian menjadi tontonan orang..perkelahian mereka terasa konyol. Beberapa hari sebelumnya rahmat yang baru bisa naik motor antri di sebuah SPBU untuk mengisi bensin motor saudaranya. Rencananya ia hendak jalan-jalan ke Curug Nangka sebagai bagian dari ‘Touring’ perdananya. Alangkah kaget dan kecewa ketika Rahmat mendapati anggaran bensin yang dia bayar lebih banyak. BBM naik membuyarkan rencana besarnya. Touring gagal karena bekal uang yang dibawanya tidak cukup aman.
Kondisi Rahmat tadi hanya sebagian kecil cerita yang bergulir di kehidupan rakyat kita. Meski penokohan fiktif tapi cerita itu fakta. Demo menentang kebijakan kenaikan BBM juga tak mengubah situasi, polemik dan pertumbukan berbagai kepentingan mengakibatkan isu utama bergeser. Tidak lagi kepada BBM nya tapi demonstrannya. Tanpa bermaksud mengesampingkan perjuangan kawan-kawan UNAS dan elemen mahasiswa lainnya, kejadian beberapa waktu lalu menjadi bukti. Isu kekerasan HAM, penembakan demonstran hingga pemogokan angkutan umum justru lebih menyibukkan para penyelenggara negara dibandingkan isu BBM itu sendiri. Media massa, anggota dewan, aktivis, tokoh masyarakat dan simpatisan gerakan justru aktif ‘mengurusi’ peristiwa itu. Seolah-olah ini menjadi urusan nasional. Benar kejadian kekerasan di Unas dan demonstrasi lainnya adalah sebuah kesalahan dan perlu perhatian serius. Tapi isu semesta (kenaikan BBM) justru membutuhkan perhatian lebih serius. Kemarin Fatur, bocah kelas 1 SDIT putra seorang teman asyik membaca koran terbitan Jakarta, dengan polos ia bertanya. “Om..TPF itu apa… ?”. Kaget juga mendapat pertanyaan seperti itu, kemudian aku menjawabnya dengan bahasa sederhana. Ia pun membalas enteng “Wahh kayak Polisi dong…” . Lalu dengan gaya khas anak-anak ..bersuara keras ia membaca semua judul berita denga penambahan kata TPF didepannya, sampai kemudian sebuah ucapan memancing senyuman sekaligus menghenyakan. Dengan lugu dia beucap TPF BBM bla..bla…bla. Ilustrasinya jika sebuah kasus pemerintah menyiagakan sebuah Tim Pencari Fakta, kenapa kenaikan BBM tidak ada elemen yang melakukannya..minimal konsisten dengan isu utama..tapi ya itu tadi ini kan hanya sebuah ilustrasi saja.
Sekali lagi kita diminta untuk memaklumi kondisi sulit ini dengan alasan hal ini juga dirasakan diseluruh dunia. Situasi ini adalah situasi global. Sungguh sebuah diorama kehidupan yang nampak usang. Sejak jaman penjajahan hingga sekarang ini kita sudah terbiasa akrab dengan himbauan pemakluman. Mudah-mudahan pemakluman ini tidak semata ditujukan bagi masyarakat kelas bawah. Permakluman ini harus mampu mengubah perilaku seluruh masyarakat. Masyarakat yang hidup di level menengah ke atas harus juga menerapkan himbauan ‘permakluman’ ini. Semoga kita diselamatkan dari kesengsaraan. (Ank_Z)
0 Tanggapan ke “Harap Maklum…”