Dan Bogor Jadi Penonton
Kota Bogor sepertinya tetap lekat dan menarik untuk dikunjungi. Sejarah kota ini juga menegaskan arti penting kota ini dimata nasional hingga internasional. Beragam tokoh nusantara dan dunia sejak masa sejarah awal kota ini ada, telah singgah dan menorehkan ceritanya. Menilik kondisi tersebut tidak salah rasanya jika panitia Konggres Kebudayaan Nasional 2008 memilih kota Bogor sebagai lokasi penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Masyarakat kota Bogor bisa jadi tidak mengetahui agenda besar itu. Bisa dibayangkan mereka yang sehari-hari melakukan aktivitas rutin melintasi Jl Ir H Juanda akan terpesona dengan baliho besar dan aneka spanduk bertuliskan Konggres Kebudayaan Nasional 2008. Tahulah mereka kini bahwa tanggal 10-13 Desember, di kota yang mereka tempati sekarang tengah berkumpul tokoh-tokoh budayawan dari seluruh nusantara. Hotel Salak atau yang pernah dikenal dengan sebutan Binnenhoff Hotel menjadi tempat penyelenggaraan kegiatan oleh sekitar 700 peserta, baik budayawan, pemerhati hingga masyarakat umum. Diantaranya Putu Wijaya, Ratna Riantiarno, Djenar Maesa Ayu, Eka Budianta, Taufik Ismail, Zawawi Imron, James F. Sundah, Seno Gumira Adjidarma dan Jajang C. Noer
Sebuah kegiatan yang sebenarnya cukup menarik perhatian. Selama ini untuk urusan kebudayaan kota Bogor hanya dilewati saja. Pandangan lebih eksotis diarahkan ke kota-kota yang selama ini memang melekat identitas budayanya. Artinya kota Bogor patut bersyukur atas terselenggaranya kegiatan konggres ini di Bogor. Banyak faktor yang bisa menjadi ukuran. Pertama kepercayaan nasional atas kondusifnya situasi politik dan keamanan di Bogor, padahal Pilkada baru saja selesai dilaksanakan. Kedua, adanya istana Bogor yang menjadi poros perhatian, sebagai warisan budaya. Imbasnya bisa diartikan sebagai pengakuan keberadaan berbagai peninggalan arsitektur budaya (situs, bangunan dan lainnya) di Bogor. Ketiga kultur Bogor dianggap sesuai untuk bicara kebudayaan. Serta faktor-faktor lainnya.
Kalau sudah begini persoalan ada pada masyarakat Bogornya. Dapatkah seluruh elemen masyarakat kota Bogor menangkap peluang ini ?. Mampukah para pegiat kebudayaan, pemerintah, UKM, institusi pendidikan dan komunitas yang ada di Bogor mengambil manfaatnya. Sebagai catatan pemerintah kota baru-baru ini mengesampingkan isu penemuan BCB (Benda Cagar Budaya) dan menganggap ada isu lain yang lebih penting. Upaya yang dilakukan selama ini hanya melakukan pendataan tanpa ada upaya perlindungannya. Beberapa pegiat budaya di kota ini juga belum banyak yang bicara ‘ruang’ dan karya. Kegiatan kebudayaan belum dianggap sebagai potensi, terbukti penyelenggaraan salah satu elemen kegiatan kebudayaan , yaitu kesenian masih sering terganjal urusan birokrasi. Pihak yang memiliki kewenangan dan kompetensi juga tidak mendukung terciptanya aktivitas kebudayaan yang rutin.
Ada persoalan di apresiasi masyarakat dan akses informasi seputar aktivitas kebudayaan di Bogor. Sebagai contoh terlihat bagaimana upaya pemerintah kota memberi sambutan pada kegiatan Konggres Kebudayaan Nasional 2008, dengan melaksanakan pertunjukan seni yang sepi apresiasi. Penonton hanya ada segelintir peserta konggres, orang-orang sanggar dan beberapa pegiat seni. Masyarakat umum tidak terlihat banyak. Acara yang dilaksanakan di Plaza Balaikota saat itu tidak terlihat aura antusiasme warganya. Padahal materi pertunjukannya cukup menarik. Apakah persoalan ada di masyarakatnya atau gaung publikasinya yang tidak sampai. Artinya belum terlihat keseriusan menangkap peluang penyelenggaraan Konggres Kebudayaan Nasional 2008 di kota Bogor.
Konggres boleh menjadi perhatian, tapi kita yang ada di Bogor seharusnya tidak hanya menjadi penonton saja. Harus ada upaya untuk menampilkan kekuatan yang ada di Bogor. Seluruh elemen harusnya saling mendukung. Menbudpar Jero Wacik sudah menyinggung secara rinci persoalan BCB yang terlantar di kota Bogor. Kita seharusnya malu. Secara tidak langsung kondisi ini menampar dan menganggap Bogor sebagai kota yang tidak menghargai jasa para pendahulunya. Jauh dibandingkan dengan kota seperti Jakarta dan Solo untuk perhatian budayanya.
Salam budaya.
=Artikel asli dengan sedikit tambahan-Tulisan senada tampil di Jendela Halimun-Jurnal Bogor dengan judul Berbeda=
Mas Anggit kalo mo foto ma artis ato orang terkenal lainnya ajak aku yah,,,, Hahaha
^_^”v