Gairah menulis, itulah yang terbersit ketika menghadiri kegiatan launching buku Jalan Panjang Bogor, oleh Ibu Dewi Pandji. Launching yang dilakukan dirumah istri mantan Wakapolri sekaligus mantan wartawati ANTARA ini memang menguak semangat untuk ikut membuat buku. Sudah lama hasrat itu terpendam tak lantas bersambut juga. Berbagai kesibukan diluar kegiatan menulis membuat insting menulisku sedikit memudar. Termasuk mengisi halaman blog ini. Bertemu dengan berbagai tokoh Bogor yang me-nasional di lokasi itu membuat gairah baru untuk terus berbuat. Jika Ibu Dewi Pandji bisa, kenapa kita yang muda tidak..?
Datang dengan undangan atas nama komunitas Kampoeng Bogor, sabtu 13 Desember 2008 lalu membuatku serasa berada di lingkungan Bogor tempo dulu. Launcing Buku yang memang sebagian besar isinya tentang Bogor itu banyak dihadiri-tokoh-tokoh Bogor senior. Saksi hidup yang bisa bertutur tentang keindahan kota yang terkenal dengan sebutan Buitenzorg itu. Buku yang dicetak secara indie ini menjadi sebuah rujukan baru tentang hal-hal berbau ke-Bogor-an, walaupun tidak menyentuh di kedalaman. Buku itu patut diapresiasi. Setidaknya kemunculannya mampu memberikan warna tersendiri bagi kota Bogor yang menyimpan potensi akulturasi cukup tinggi ini.
Sebagai undangan yang paling muda (diluar keluarga undangan) tentu ini menjadi kesempatan cukup langka. Diantara mereka yang memang sudah tidak menetap di Bogor. Tapi kenangan mereka tentang Bogor cukup menjadi modal untuk hadir di kediaman Ibu Dewi Pandji yang terletak di Taman Malabar itu. Selain tokoh Bogor, mantan petinggi kepolisian RI juga terlihat hadir disana. Mereka ada beberapa yang memiliki ikatan bathin dengan Bogor. Disela-sela acara mereka juga senang bersenda gurau, bercerita keadaan mereka dulu. Layaknya sebuah reuni.
Tak ketinggalan berbagai hidangan nuansa kuliner Bogor tersaji dengan gratis bagi undangan. Lagi-lagi ini juga kesempatan yang cukup langka. Biasanya kita berburu aneka makanan tersebut. Tapi di sini semuanya tersaji dengan jelas.
Di penghujung acara, sebelumnya kami sempat mengobrol dengan Ully Sigar Rusady. Aktivis lingkungan ini mengomentari simbol pohon yang ada di baju komunitas Kampoeng Bogor.
Hmmm…terpikir kemudian dalam perjalanan pulang. Jika yang tua sudah bicara keindahan masa lalu…akankah kami yang muda cuma bisa berkhayal saja…tanpa berbuat ?.
Saatnya generasi bicara…
bukan Ully Artha Sigar yang benar Ully Sigar Rusady saja..
eehehehehe,,,,sip thanks…langsung diralat