Dari Berebut Dongdang Hingga Parebut Seeng
Sejak pagi ratusan warga dan pengunjung tampak memadati alun-alun Kajeroan di kaki gunung Salak itu. Mereka tengah menanti datangnya rombongan arak-arakan yang akan segera tiba. Saat itulah pesta warga akan segera dimulai. Arak-arakan berupa helaran Dongdang memang selalu dinanti warga dan pengunjung. Helaran tersebut merupakan penanda acara puncak Serentaun Guru Bumi yang diadakan Kampung Budaya Sindangbarang (KBS), Desa Pasireurih Kecamatan Tamansari Kabupaten Bogor. Pada minggu 11 januari 2009 lalu.
Helaran Dongdang dimulai dari Imah Kolot yang jaraknya 1 kilometer dari kawasan KBS. Warga dengan berpakaian adat dengan riang mempersiapkan dan membawa aneka hasil bumi untuk diarak bersama pembawa Rengkong (padi) hasil panen, para kokolot dan rombongan kesenian, juga warga lainnya. Dongdang yang dipersiapkan oleh 54 RT itu sebelum berangkat didoakan terlebih dahulu. Seorang sesepuh memimpin doa tersebut sambil menyipratkan air dari kendi yang berisi air dari tujuh mata air (Kukulu) pada rombongan dan warga. Pukul 08.30 rombongan helaran segera bergerak menuju Kampung Budaya Sindangbarang untuk melakukan upacara Majiekeun Pare ayah dan ambu ke dalam lumbung Ratna IntenHelaran Dongdang, Majiekeun Pare dan Pintonan kesenian tadi adalah acara puncak dari tujuh hari rangkaian Serentaun kali ini. Sebelumnya berbagai kegiatan dan upacara adat digelar di enam hari lainnya. Hari pertama diadakan upacara Neutepkeun, yaitu ritual yang dilaksanakan ditempat pabeasan atau tempat menyimpan beras di Imah Gede. Di Pabeasan semua bahan-bahan makanan yang akan dimasak dikumpulkan. Kokolot akan memimpin doa kepada Allah Swt dan menetapkan niat untuk memulai acara Serentaun serta memohon agar kebutuhan untuk konsumsi selama penyelenggaraan acara tidak mengalami kekurangan. Hari kedua diadakan acara Ngembang, yaitu ziarah ke makam leluhur warga Sindangbarang yang letaknya di Gunung Salak. Makam yang diziarahi adalah makam Sang Prabu Langlangbuana Prabu Prenggong Jayadikusumah. Dipimpin oleh Kokolot Panggiwa dan Panengen. Hari ketiga adalah Sawer Sudat dan Ngalage. Yaitu Upacara Sudat (sunat) menurut tradisi budaya Bogor. Hari keempat dilaksanakan Sebret Kasep, yaitu pelaksanaan sudat itu sendiri. Hari kelima dilaksanakan Ngukuluan, yaitu tugas kepada kokolot dan parawari untuk memulai mengambil air dari tujuh sumber mata air. Hari keenam barulah dilakukan acara Sedekah kue, Helaran, Nugel Munding, Sedekah daging,dan Pertunjukan seni. Sebanyak 40 tampah kue disediakan dihadapan warga dan kokolot. Lalu dibacakan riwayat kampung dan doa, setelah itu kue diperebutkan. Setelah itu dilakukan helaran dengan mengarak tumpeng dan diiringi awalan angklung gubrag, tujuh orang mojang, pembawa pohon hanjuang, jampana berisi air kukulu, pembawa tebu hitam, pembawa jampana daging, pembawa pohon hanjuang,para kokolot,kesenian reog,calung, kendang pencak diikuti oleh warga masyarakat menuju lapangan SD Inpres untuk memotong kerbau. Daging kerbau yang dipotong kemudian dimasak dan diperebutkan oleh masyarakat. Malam harinya dihadirkan pertunjukan seni di dua buah panggung. Yang satu di alun-alun kajeroan dan satu lagi di lapangan.Sukses dan lancarnya seluruh rangkaian kegiatan selama sepekan itu disyukuri oleh Kepala Adat Achmad Mikami Sumawijaya (Maki). Maki juga berpesan kepada masyarakat agar lebih peduli dengan adat dan budaya sunda di Bogor yang memang memiliki ke-khas-an sendiri. Budayawan Anis Djatisunda dengan bijak mengatakan bahwa Serentaun yang diadakan di Pasir Eurih merupakan bentuk ikatan emosional warga setempat teradap tradisi dan budaya sunda yang ada. Menurutnya hal ini adala ikatan emosional yang divisualisasikan dalam bentuk kegiatan Serentaun.
Di lapangan, tepatnya di halaman Imah gede, sang Rama sudah menunggu untuk melakukan prosesi upacara adat memasukkan padi. Kemudian setelah selesai memasukkan padi sang Rama memberi pesan-pesan kepada warga yang hadir. Dongdang pun segera dibawa kedepan. Setelah di doakan oleh sang Rama Dongdang langsung diperebutkan oleh warga dan pengunjung. Warga dan pengunjung itu langsung menyerbu jajaran tandu yang berisi aneka buah-buahan dan sayur-sayuran. Tak sampai 15 menit Dongdang langsung abis dan menyisakan rangkanya saja. Tuntas memperebutkan Dongdang warga di hibur dengan pertunjukan tari yang diiringi oleh gamelan secara live. Secara atraktif 50 muda-mudi Sindangbarang mempertunjukkan keahlian mereka, disusul Gondang, Angklung Gubrag, Kendang Penca dan diakhiri dengan Rampak Parebut Seeng. Seluruh rangkaian acara puncak tersebut diikuti oleh sesepuh KBS, pejabat Provinsi Jawa Barat dan Muspida Kabupaten Bogor bersama tamu undangan lainnya. Malam harinya di Imah gede, para kokolot dan Sang Rama berkumpul untuk menceritakan sejarah perjalanan Sindangbarang dari jaman Kerajaan Pajajaran hingga kini. Di alun-alun Kajeroan pagelaran wayang golek semalam suntuk digelar
0 Tanggapan ke “Serentaun Kampung Budaya Sindang Barang”