Rasanya tidak ada yang menyangkal jika gelaran acara Kampoeng Rakjat di Balaikota 31 January dan 1 February 2009 kemarin memberi nuansa yang berbeda dibandingkan gelaran sejenis lainnya. Sebuah konsep gelaran yang berupaya menampilkan keberagaman etnis dan budaya yang ada dan tumbuh di kota Bogor. Gelaran dimana masing-masing identitas tersebut bisa menyatu dalam satu rangkaian kegiatan.
Kampoeng Rakjat 2009, demikian tajuk gelaran tersebut. Adalah kali kedua diselenggarakan oleh komunitas Kampoeng Bogor didukung beberapa komunitas lain yang terlibat didalamnya. Untuk kali ini bermitra dengan Vihara Dhanagun dan panitia Cap Go Meh 09, Kampoeng Rakjat kembali digagas sebagai upaya pemersatu warga Bogor. Sekaligus rangkaian kegiatan dalam rangka Cap Go Meh 09.
Balaikota yang biasanya terlihat kaku dan tenang, sontak berubah menjadi perkampungan. Konsep yang sengaja berusaha menampilkan wajah kampoeng ini seolah menggambarkan kondisi wilayah saat ini, berikut berbagai potensi didalamnya. Dalam gelaran Kampoeng Rakjat ini ditampilkan pameran yang berisi keragaman tersebut. Tampak stand budaya indo lengkap dengan perabotannya, kemudian budaya tionghoa dengan berbagai pernak-perniknya juga budaya sunda yang tersaji di stand kampung budaya Sindang Barang. Selain itu juga tampak beberapa stand yang menggambarkan potensi Bogor seperti Kerajinan Kujang, Bogor Creatif, kerajinan Boneka Batik, Boneka Horta, lukisan, kerajinan kenariKantor Pos, Istana Bogor, PGB Bangau Putih, komunitas sepeda (B2w, Oncom), Himpunan Persaudaraan Umat Vihara Dhanagun, komunitas Gunung-gunung, kampung budaya Sindang Barang dan stand komunitas (Kalam, Salam, dan lainnya). Beberapa kuliner seperti Toge Goreng, Roti Jawara, masakan timur tengah dan stand promo juga terlihat berpadu disana.
Diawali penampilan Barongsai NSBP Bogor, acara yang dibuka Walikota dengan diwakili oleh Bapak Eddy Warsa ini langsung menyita perhatian pengunjung dan undangan. Garapan rengkong hatongan dari sanggar Kencana Ning Laras yang menggambarkan nuansa kehidupan orang desa tampak serius disimak pengunjung. Kemudian penampilan pencak silat Giri Selo, Barong liong Merah Putih, musik akustik arab El-Hamra dan dansa komunitas Gunung-gunung menjadi pemandangan yang memeriahkan suasana hari itu.
Keesokan harinya pertunjukan barong anak dari GASI menjadi suguhan menarik berikutnya. Acara di hari m inggu itu memang dikonsep untuk acara anak-anak. Terlihat panitia juga melakukan penilaian lomba melukis dan menghias lampion yang diikuti oleh murid Sekolah Dasar se kota Bogor. Suguhan berikutnya adalah musik barang bekas tri vore true, Angklung dan Calung Bodor dari SD Pondok Rumput 1 dan SD Kedung Jaya 2. Kemudian tampil juga Silat anak PGB Bangau Putih dan ditutup oleh pertunjukan Ulin barudak dari Bogor Art Group.
Rangkaian kegiatan Kampoeng rakjat ini terasa begitu membekas di benak pengunjung, peserta dan panitia. Ungkapan ini terlihat nyata dalam kebersamaan acara penutupan. Dalam sambutannya, Chandra dari Vihara Dhanagun dan Abdul Manaf selaku ketua panitia menyiratkan harapan untuk bertemu di Kampoeng Rakjat 2010.
0 Tanggapan ke “Semarak Kampoeng Rakjat 09”