Fisiknya memang tak lagi muda, gurat wajah yang mengeriput dan getaran suaranya pun terdengar letih. Tapi bicara soal kegarangan panggung, Putu Wijaya masih mampu menyihir audien dan penggemarnya di MAN 2 Kota Bogor, Baranangsiang Sabtu (17/10) lalu. Gayanya masih khas, letupan sajak yang dikemas dalam rangkaian monolognya itu terangkai menjadi sebuah cerita. Sebuah bentuk kekaguman Putu Wijaya secara pribadi kepada WS Rendra. Kekaguman yang mengalir, tidak dibuat-buat. Kekaguman tulus yang coba ia tularkan kepada masyarakat Indonesia. Semua ini terangkum apik dalam beberapa jam pertujukannya
Monolog Putu Wijaya bersama Teater Mandiri digelar dalam rangkaian roadshow 100 hari peringatan meninggalnya Rendra. Roadshow ini dilakukan di beberapa kota seperti Bandung, Jogja, Solo, Semarang, Surabaya hingga ke Bali. Menurutnya sosok Rendra harus dihargai dari pikiran-pikirannya. Dalam monolognya Putu Wijaya bercerita tentang kemerdekaan dan kebebasan. Hal yang sering menjadi tema-tema sajak Rendra. Sebuah bentuk karya yang menghargai pikiran-pikiran Rendra, gaya Rendra dan yang pasti semangat serta idealismenya. Pesona panggung seorang Putu Wijaya diakui siswa-siswi MAN 2, sebagaimana yang diungkapkan Sisi, Dwi dan Adetya. Ketiganya terbius dengan aksi panggung yang cukup atraktif dan tidak menyangka jika seorang Putu Wijaya masih bisa melakukannya.
0 Tanggapan ke “Bersama Putu Wijaya Mengenang Rendra”